May 2010

You are currently browsing the monthly archive for May 2010.

Pangalengan dikenal sebagai daerah sejuk dan salah satu penghasil sayur mayur utama di Jawa Barat. Kentang, wortel, cesim, tomat, cabe, adalah sejumlah produk utama daerah tersebut.

Modal Sayur Dirham PerakDi Pangalengan pula kita menemukan hamparan perkebunan the yang dikelola oleh PT Perkebunan Malabar, yang merupakan perkebunan peninggalan jaman kolonial dulu. Dari Pangalengn pula kita bisa mendapatkan susu sapi lokal dengan koperasi peternak yang mungkin tersbesar secara nasional.

Di wilayah pegunungan yang sejuk inilah Kang Abu Bakar Cucu dan Kang Tantan Tandiawan bermukim. Sebagaimana umumnya masyarakat Pangalengan mereka berdua pun sehari-harinya adalah bertani dan beternak. Mereka mengelola lahan sendiri, meski tak terlalu luas, yakni 2.500 m persegi. Namun, seperti lazimnya petani kita, pada saatnyahendak bertanam kesulitan modal awal untuk membeli bibit dan sarana produksi pertanian lainnya.

“Dengan ini kami ingin bermaksud mohon pinjaman,” demikian Kang Abu Bakar dan Kang Tantan menulis surat ke pengurus Baitul Mal Nusantara. Kebutuhan modal mereka adalah 70 Dirham.

Sesudah dievaluasi secukupnya permohonan itu pun dikabulkan. Saat ini, dengan modal 70 Dirham itu, mereka berdua sudah mulai melakukan penanaman, sejumlah 8.000-10.000 bibit. Tanaman pokoknya adalah sawi dengan masa tanaman 60-80 hari.

Kita doakan semoga usaha pertanian mereka berhasil dan dengan demikian dapat mengembalikan pinjaman 70 Dirham tersebut tepat pada waktunya dan tanpa kesulitan apa pun.

Berikut laporan periode April 2010 Garnissun Bangsa dan Wakaf Imarah Baitul Mal Nusantara (BMN).

Alhamdulillah dengan semakin banyaknya aktivitas amal kebajikan yang digerakkan oleh Baitul Mal Nusantara (BMN) semakin banyak juga dermawan yang datang mengulurkan tangan. Pada bulan April 2010 deretan donatur BMN semakin panjang. Selain donatur rutin, seperti Pak Sofyan al Jawi, Pak Arman, Pak Yan Radityo, Pak Rusdi; ada sejumlah donatur baru.

Dari Balikpapan, Pak Hardiawan menyedekahkan hartanya 1 Dinar emas untuk keperluan pembuatan matras koin, bersama-sama dengan sumbangan dari Yayasan Adina (10 Dinar emas). Dari Jakarta ada Pak Ramadhoni dan Pak Muhammad Yamin Asrofi, masing-masing menyedekakan 20 Dirham dan 1 Dinar emas, plus 1 daniq Dirham (0.5 Dinar untuk Imarah dan sisanya untuk kegiatan lain). Pak Abdarrahman, salah satu donatur rutin, kali ini memberikan sumbangan 25 Dirham, untuk keperluan pencetakan brosur “Tebar Sejuta Dirham”. Donatur baru lainnya adalah Pak Ari Rendra, memberikan 15 Dirham.

Total Dirham terkumpul pun bertambah menjadi 229 Dirham untuk Wakaf Imaret, dan 90.16 Dirham untuk nonwakaf. Total Dinar terkumpul ada 23.5 dinar, dan emasnya masih tetap 57 gr. Penambahan dinar in juga diperoleh dari hasil konversi sejumlah Dirham perak (106 Dirham menjadi 2.5 Dinar), agar memudahkan penyimpanan.

Tabel 1. Perolehan Wakaf Imarah BMN Periode April 2010

Penyumbang

Wakaf Imaret

Sedekah/Infak

Dinar Dirham Emas (gr) Dinar Dirham
Saldo Maret 2010

9

221

57

0

15

1

Sumbangan Bp Sofyan al Jawi

1

2

Sumbangan Pak Hardiawan

1

3

Sumbangan Pak Rusdi

10

4

Sumbangan Pak Ramadhoni

20

5

Sumbangan Kotak Amal 1

6

6

Sumbangan Yayasan Adina

10

7

Sumbangan Bp Arman

2

8

Sumbangan Bpk Zaim Saidi

3

9

Sumbangan Bpk Ari Rendra

15

10

Sumbangan Bpk Yamin Asrofi

0.5

0.5

0.16

11

Sumbangan Bpk Abdarrahman

25

12

Sumbangan Bpk Yan Radityo

5

13

Konversi dari Dirham

2.5

Total Pemasukan

12

229

57

11.5

94.16

Alokasi dana BMN sampai saat ini ditampilkan di Tabel 2. Telah disebutkan di atas sejumlah sumbangan dikhususkan untuk kegiatan tertentu, seperti pencetakan brosur, pembuatan dies koin perak. Selebihnya dialokasikan untuk berbagai kegiatan, terutama permodalan usaha (15 Dirham), dan “Tebar Sejuta Dirham” (19 Dirham). Pada tahap pertama “Tebar Sejuta Dirham” ini lebih dari 100 masjid/lembaga sosial telah menerima koin perak (daniq, nisfu, maupun Dirham).

Jadi, saldo sedekah BMN saat ini adalah untuk Imarah ada 12 Dinar, 123 Dirham dan 57 gr emas; sedangkan untuk non-Imarah ada 0.5 Dinar dan 33.16 Dirham perak.

Tabel 2. Alokasi Dana BMN (April-Mei 2010)

Pengeluaran Dinar Dirham Emas Dinar Dirham

1

Konversi ke Dinar

106

2

Wakaf Matras Koin

11

3

Pencetakan Brosur Tebar Dirham

25

4

Pencetakan Amplop

2

5

Tebar Sejuta Dirham

19

6

Pinjaman Modal

15

Total Pengeluaran

61

Saldo 30 April 2010

12

123

57

0.5

33.16

Semoga Allah SWT membalas sedekah para wakif dan dermawan kita dan mempercepat terwujudnya Imarah Nusantara dengan segera. Amin3x.

Tentang Imarah

Imarah adalah ‘Kawasan Terpadu’ yang menyatukan kegiatan keagamaan dan kesejahteraan umum, yang ditopang oleh pendanaan dari aktivitas komersial yang tak terpisahkan darinya. Di dalam sebuah Imarah - atau dalam tradisi Utsmani disebut sebagai Imaret - kita menemukan beragam fasilitas untuk keperluan ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pemakaman, taman-taman kota, serta pemukiman.

Istilah Imaret sendiri berasal dari bahasa Arab ‘imara, yang artinya pendirian. Kata ta’mir, yang di Indonesia lazim dipakai untuk istilah ta’mir masjid, berasal dari akar kata yang sama, ‘-m-r dan menghasilkan kata ‘amr - hidup - dan isti’mar - mendirikan di atas tanah (pembangunan). Kata di atas digunakan dalam ayat al-Qur’an (11:61), “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya“.

Kata Imaret juga berarti tindakan pengembangan suatu daerah, dapat disepadankan dengan pengertian Pembangunan Islam. Di dalamnya bisa kita dirikan masjid, madrasah dengan pelbagai jenis dan tingkat, wisma penginapan, dapur umum bagi kaum miskin dan para musafir, klinik-klinik, penampungan anak yatim, perpustakaan, instalasi air, bahkan tanah pemakaman, pabrik roti, taman dan kolam renang, bengkel, toko-toko, rumah zakat dan sebagainya.

Satu bagian penting dari Imaret adalah Karavanseri, atau rest area, tempat para pedagang dan musafir lain beristirahat dan tinggal sementara. Menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan darinya adalah bangunan-bangunan komersial terutama pasar (suq), bazar-bazar, pergudangan, pertokoan, pabrik-pabrik skala kecil dan menengah, bengkel, restoran, apotek, hotel, sarana penyembelihan hewan, kebun produktif, dan sebagainya, sebagai arena bisnis.

Sebagian besar atau seluruh pendapatan dari kegiatan komersial ini sepenuhnya dikembalikan dan digunakan untuk membiayai berbagai layanan sosial yang diberikan kepada publik.

Tentang Garnissun Bangsa

Garnissun Bangsa adalah gerakan ‘amal kebajikan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat berupa infak dan sedekah. Infak dan sedekah yang dimobilisasi oleh GARNISSUN BANGSA adalah koin-koin Dirham perak yang dapat diserahkan baik langsung kepada fakir miskin, masjid dan musholla di lingkungan terdekat, rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, pondok pesantren, maupun kepada lembaga-lembaga infak dan sedekah, serta derma dan sosial yang dipercaya.

Yang ingin berpartisipasi dalam Program Wakaf Al Imarah dan Garnissun Bangsa BMN dapat menghubungi:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 rt 003/04
Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426
Telp. 7756071 - 7752699
Email: abdarrahman@bmnusantara.org
Rekening BCA No 7150500405 KCP Nusantara
Atas nama Ricky Rachadi

Untuk wakaf dan sedekah dalam bentuk Dirham perak atau Dinar emas dapat diserahkan secara fisik atau dalam bentuk rupiah melalui rekening di atas untuk ditukarkan dengan Dirham atau Dinar di wakala terdekat. Hasil pengumpulan wakaf dan sedekah ini akan dipubliskasikan kepada umum secara periodik.

Sejak berjualan lauk-pauk matang dengan modal dari Baitul Mal Nusantara (BMN) bude Yati mulai menerima koin Dirham perak.

Bude Yati dan Dirham PerakSejak mendapatkan pinjaman modal dari Baitul Mal Nusantara (BMN), sebesar 15 Dirham perak, Bude Yati semakin bisa mengatur waktunya sendiri. Dia tidak lagi bekerja sebagai buruh mencuci dan menyetrika di tetangganya, di Tanah Baru, Depok. Dengan modal 15 Dirham Bude Yati bisa berkeliling memasarkan kerudung yang ia beli dari Grosir Arofah. Dari perputaran kerudungnya ia bisa manfaatkan hasilnya untuk berdagang lauk-pauk.

Kegiatan barunya, tak terasa, sudah berjalan hampir dua bulan. Setiap pagi Bude Yati keliling menjajakan lauk-pauknya: yang ia siapkan selalu bergantian menunya. Kadang ia membawa sayur asem, ikan balado, teri pedas, daging kecap cabe ijo, kadang gule kerecek, ayam pedas, rendang daging. Ada kalanya ia membawa keripik kentang, sup ayam, pepes ikan kembung, dan oseng kulit melinjo, serta lodeh daun singkong. Harganya juga bervariasi dari Rp 3.500 sampai Rp 7.500an.

Bude Yati terima Dirham PerakPinjaman modal Bude Yati berupa Dirham perak. Maka ia menjual dagangannya pun dengan dua alat tukar, rupiah maupun Dirham, baik untuk kerudung maupun lauk-pauknya. Alhamdulillah ia telah mendapatkan sejumlah pelanggan yang juga menggunakan alat tukar tersebut. Harga kerudungnya memang antara 1/2 - 1.5 Dirham, atau antara Rp 16.500- Rp 45.000/potong.

Dengan tersedianya daniq (1/6) dan nisfu (1/2) Dirham Bude Yati pun lebih mudah lagi bertransaksi. Lauk-pauknya pun kini dapat ia jual dengan daniq dan nisfu Dirham. Ia pun semakin senang, dapat mengumpulkan koin-koin perak dari hasil berdagangnya setiap hari, untuk ia pakai mencicil pinjaman ke BMN.

“Paling tidak saya bisa datang ke Baitul Mal Nusatara seminggu sekali menyerahkan cicilan, sebagian lagi saya mau tabung sendiri,” kata Bude Yati. Sekali datang ia acap mencicil 2 daniq sampai 1 nisfu Dirham.

(001)