Pangalengan dikenal sebagai daerah sejuk dan salah satu penghasil sayur mayur utama di Jawa Barat. Kentang, wortel, cesim, tomat, cabe, adalah sejumlah produk utama daerah tersebut.
Di Pangalengan pula kita menemukan hamparan perkebunan the yang dikelola oleh PT Perkebunan Malabar, yang merupakan perkebunan peninggalan jaman kolonial dulu. Dari Pangalengn pula kita bisa mendapatkan susu sapi lokal dengan koperasi peternak yang mungkin tersbesar secara nasional.
Di wilayah pegunungan yang sejuk inilah Kang Abu Bakar Cucu dan Kang Tantan Tandiawan bermukim. Sebagaimana umumnya masyarakat Pangalengan mereka berdua pun sehari-harinya adalah bertani dan beternak. Mereka mengelola lahan sendiri, meski tak terlalu luas, yakni 2.500 m persegi. Namun, seperti lazimnya petani kita, pada saatnyahendak bertanam kesulitan modal awal untuk membeli bibit dan sarana produksi pertanian lainnya.
“Dengan ini kami ingin bermaksud mohon pinjaman,” demikian Kang Abu Bakar dan Kang Tantan menulis surat ke pengurus Baitul Mal Nusantara. Kebutuhan modal mereka adalah 70 Dirham.
Sesudah dievaluasi secukupnya permohonan itu pun dikabulkan. Saat ini, dengan modal 70 Dirham itu, mereka berdua sudah mulai melakukan penanaman, sejumlah 8.000-10.000 bibit. Tanaman pokoknya adalah sawi dengan masa tanaman 60-80 hari.
Kita doakan semoga usaha pertanian mereka berhasil dan dengan demikian dapat mengembalikan pinjaman 70 Dirham tersebut tepat pada waktunya dan tanpa kesulitan apa pun.
Tags: Dirham Perak, Modal, Pinjaman

Loading...
1 comment
Comments feed for this article
Trackback link
http://bmnusantara.org/2010/05/70-dirham-untuk-bertani-sayur-mayur/trackback/
July 8, 2010 at 10:04 am
faisal
Saya sangat bersyukur dengan adanya program2 produktif seperti ini. Mungkin ada baiknya, perkembangan (hasil produksi, kondisi ekonomi, kontinuitas usaha) setelah dana diserahkan kepada saudara2 kita dapat dilaporkan juga. Sehingga kita bisa mengetahui efektifitas dari program2 ini. Dan pada akhirnya bisa memacu kaum muslimin yang lain untuk ikut berperan serta. Terima kasih.