Futuwwa
Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi
Kita akan membahas satu istilah sufi, yang dalam pengertian tertentu, selaras dengan tawhid yang menempatkan kita pada pemahaman akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Istilah yang dimaksud atau ditransformasikan oleh tawhid dalam diri kaum muslim yang mendapat pengetahuan tawhid. Ini merupakan istilah teknis yang kita telusuri dari Al-Qur’an, yakni futuwwa.
Futuwwa berarti sejenis akhlak mulia. Ada orang yang menerjemahkannya sebagai sikap kesatria tetapi kata ini tidak ada hubungannya dengan kuda perang. Kata ini berhubungan dengan kapasitas besar atau kualitas pengetahuan bagi abdi Allah subhaanahu wa ta’ala.
Tiga Ayat Sebagai Landasan
Kita akan mengambil tiga ayat. Sebetulnya ada ayat-ayat lain tetapi yang tiga ini merupakan yang paling penting yang mendefinisikan futuwwa. Futuwwa berasal dari kata fata yang berarti “pemuda”. Kata majemuknya fatyan dan fataya untuk jenis wanita. Sebagaimana kita lihat dalam al Qur’an kata ini sebagai fata.
Pertama kita lihat pada surat al Kahfi yakni ayat 18 dan 13. Kata ini mengacu pada para pemuda yang dimasukkan ke dalam gua dan Allah
berfirman:
“Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman dan kami tambahkan pada mereka petunjuk”
Al Kahfi 13

Kita akan kembali lagi pada surat Kahfi tetapi kita akan beralih dulu pada surat al Anbiya, surat 21, ayat 60 yang menyatakan.”Mereka mengatakan Kami mendengar seorang pemuda menyebut-nyebut berhala-berhala itu, mereka memanggilnya Ibrahim”
Al
Anbiya 60
Ayat ini mengacu pada momen yang terkenal ketika sayidina Ibrahim as, tidak sekadar menghancurkan berhala tetapi dengan petunjuk ilahi dia melakukan penghancuran ini dan inilah tindakan yang menghabiskan mereka karena dia tidak mengatakan “Aku menghancurkannya“, sebagaimana mereka mengatakan, tetapi dia mengatakan “Tidak, yang terbesarlah yang melakukannya.” Mereka mengatakan, “Ini merupakan olok-olok. Bagaimana mungkin sebuah berhala mampu menghancurkan berhala lain?”. Pada titik ini Ibrahim mengungkapkan semua kejadian dengan ijin Allah- bahwa mereka tidak mempunyai kekuasaan. Ini merupakan indikasi pengaruh fata yang mengubah seluruh situasi peribadatan yang salah.
Nanti kita akan
kembali ke surat Anbiya tetapi sekarang kita akan kembali dulu ke
surat Kahfi, ayat 60.
“

Dan ingatlah ketika Musa berkata pada pengiring-mudanya, aku tidak akan berhenti sampai tiba pada pertemuan dua lautan.”
Musa mengatakannya pada fata-nya, pada pengiring-mudanya. Di sini kita memiliki tiga contoh penggunaan kata ini dan di dalam masing-masingnya ada pemuda yang diberi pengetahuan oleh Allah. Ashabul Kahfi, merupakan orang-orang yang beriman kepada Allah dan “Kami menambahkan petujuk pada mereka,” karena mereka mengharapkan tawhid murni, mereka tidak akan menerima berhala dan mereka tunduk pada ketentuan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam kejadian tersebut. Yang kedua ialah Nabi Ibrahim as dan ini merupakan pengamalan pengetahuan tawhid yang mengalahkan kaum musyrikin.
Yang ketiga sangat penting yang berisi tentang Sayidina Musa yang menyingkap hikmah dari Allah subhaanahu wa ta’ala dan mengatakan pada pemuda yang menyertainya bahwa dia tidak akan menyerah sampai dia sampai pada tempat bertemunya dua laut. Karena dia seorang nabi dia juga mengajari pemuda itu agar mengikuti jalan nabi sehingga dia tidak akan menyerah sebelum sampai tempat pertemuan dua laut. Bagi kaum sufi, pertemuan dua laut merupakan tempat, dalam kata-kata Ata’illah, pertemuan syari’at dan hakikat karena bagi orang yang mengetahuinya, syari’at tidak memisahkannya dari hakikat dan hakikat tidak memisahkannya dari syari’at. Dia memberikan kepada masing-masing haknya.
Inilah tiga hal yang menjadi landasan kata fata, pemuda yang berpengetahuan, dengan kemuliaan spiritual. Jadi acuan Qur’an pada Ashabul Kahfi yang tidak akan menyembah berhala tetapi memilih tinggal di gua guna menyelamatkan tawhid mereka, nabi Ibrahim as yang menggunakan kemampuan inteleknya untuk menghancurkan kesyirikan penyembahan berhala dalam upaya unjuk
ke-tawhid-an dan pengiring sayidina Musa as yang telah membantunya mencapai tujuan karena hal ini merupakan bagian cara Allah mengungkapkan pada Musa akan pengetahuan yang tinggi, bersifat ilahi, yang dia perlukan dalam menjalankan misi sebagai utusan Allah kepada kaumnya.
Ini berarti bahwa futuwwa, kemuliaan, merupakan pintu menuju petunjuk. Kita kembali pada surat al Kahfi ayat 10. Pemuda itu berlindung di gua dan mengatakan, “Ya Allah, beri kami rahmat-Mu langsung dan bukakan jalan bagi Anda kepada petunjuk yang benar pada urusan kami ini.”
Al Kahfi 10
Min ladunka berarti langsung dari-Mu dan ini berarti petunjuk ilahi. Ini berarti tajaliyah Dzat dalam bahasa sufi- penyingkapan ilahiah akan Esensi Allah subhaanahu wa ta’ala. Min amrina rashada- kita sampai pada kata kunci yang berkaitan dengan futuwwa yakni rushd.
Rashada berarti petunjuk yang benar. Sekarang kita beralih ke surat al Anbiya dan kita akan kembali lagi ke surat Kahfi.
Kita lihat kesempurnaan Qur’an bahwa ketiga hal ini berkaitan erat, hal-hal yang luar biasa ini berhubungan secara sempurna dan bahwa kata-kata Qur’an secara ilahi diarahkan pada makna-makna yang spesifik ini.
Sekarang kita beralih ke sayidina Ibrahim pada ayat 51. ”Kami memberi Ibrahim petunjuk yang benar dan Kami menyempurnakan pengetahuan atasnya.”
Al Anbiya 51
Tentu ada maksud sehingga Allah menyatakan bahwa petunjuk yang benar ini diberikan sebelum terjadi peristiwa, bahwa kedudukan tinggi sayidina Ibrahim as mendahuluinya. Allah memberi petunjuk yang benar sebelum peristiwanya sendiri terjadi, sebelum pertemuan dengan kaum musyrikin sehingga ketika saat itu tiba dia telah memiliki pengetahuan ilahiah dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Hal ini bukanlah berasal dari inteleknya yang berasal dari otak tetapi inteleknya dalam pengertian percikan sinar kesadaran pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan guna memerangi kaum musyrik.
Kemudian Allah menyatakan hal yang sangat menarik. “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Kita tentu tidak akan merasa heran jika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan pada titik itu bahwa Ibrahim telah memiliki pengetahuan lengkap atas Allah tetapi Allah menyatakan, “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Ini berlanjut dengan ayat ketika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan :
Surat al Maidah 54 
“Kami mencintai mereka dan mereka mencintai Kami.” Sehingga “Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya dan dia mempunyai pengetahuan lengkap atas Kami,” yang menyebabkan mengapa Ibrahim mempunyai nama yang sangat istimewa, dia dinamakan al Khalil. Syech Ibnu Arabi menjelaskan bahwa al khalil berasal dari satu istilah bahasa Arab yang berarti bercampur
sampai jenuh. Jika kita meletakkan kain wol ke dalam air dan kain ini akan selengkapnya bercampur sampai jenuh sehingga sekalipun wol tetap wol dan air tetap air, wol itu sepenuhnya adalah air dan air itu
sepenuhnya adalah wol tanpa inkarnasi atau kemanunggalan. Hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan tetapi terjadi kejenuhan pengetahuan ini dalam kecintaan Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Ibrahim as dan cinta Ibrahim untuk Allah subhaanahu wa ta’ala.
“Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya.” Dalam inversi ini sangat penting disadari ketinggian kedudukan Ibrahim di antara nabi lain. Kita akan melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat beragam acuan yang sangat istimewa mengenai Ibrahim dan mengidentifikasi dirinya dengan Ibrahim dengan berbagai cara. Penggunaan kata huda yang dapat dimilikkan pada Ibrahim merupakan kata yang dibawa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya.
Sekarang kita sampai pada hal ketiga pada surat al Kahfi, Musa mengatakan padanya, “Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu?”
Al Kahfi 66
Kandungan ayat ini luar biasa sehingga kita dapat terkecoh dalam memahami seluruh kisah sayidina Musa karena hal ini penuh makna bagi kaum Sufi. Di dalamnya Allah memilih untuk nabi-Nya makna kesempurnaan kedudukannya yang tinggi dan tugas yang sangat sulit yang diembannya. Dia diberi instruktur alami yang sangat mirip dengan cerita kedatangan malaikat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis Muslim. Diriwayatkan kedua pasang lutut mereka saling bertemu dan malaikat bertanya kepada nabi tentang Islam, iman dan ihsan - pengajaran dari Yang Gaib kepada dunia yang maujud dalam sebuah pertemuan yang sangat istimewa. Hal ini sama dengan yang dialami nabi Musa dalam pertemuannya yang sangat terkenal, dengan ketiga kejadian yang dalam pandangan sekilas tampak salah tetapi
kemudian ternyata terungkap makna yang sebenarnya.
“Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu? Ajari aku beberapa rashada yang telah diajarkan kepadamu. Kau beri aku rashada yang aku inginkan darimu. Untuk itulah pertemuan ini terjadi, guna mendapat rashada.“
Dalam pengertian ini, ada ashabul kahfi, ada nabi Ibrahim selaku seorang pemuda dan ada pengiring nabi Musa dan masing-masing mengandung ajaran tentang tawhid sehingga kita menghubungkan futuwwa dengan rashada. Dengan demikian futuwwa merupakan pintu menuju petunjuk yang benar.
Acuan teknis pertama tentang fityan berasal dari Hasan al Bashri yang merupakan salah satu Syech tarekat kita, sehingga apa pun yang dia katakan menjadi sangat penting buat kami, dan berkat kedekatannya dengan para sahabat dan tabiin. Dia mengatakan bahwa pada masa awal fityan, orang yang berasal dari fityan ini tidak dikenal melalui kata-katanya tetapi melalui perbuatan mereka dan itulah yang mungkin dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat. Ketika kita melakukan wirid kita memohon dua kali kepada Allah agar diberi pengetahuan yang bermanfaat, ‘ilman nafian dan dia mengatakan bahwa inilah perbuatan para pemuda yakni ilmu yang bermanfaat, inilah yang mereka inginkan – inilah pengetahuan dalam bentuk perbuatan.
Tuntunan Nabi
Sekarang kita beralih dari Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita mendapatkan hal yang sangat menarik. Seorang lelaki menyiapkan makanan untuk menjamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beberapa sahabat. Pada saat hidangan datang salah seorang di antara mereka menolak makan dengan mengatakan dia sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
“Saudaramu telah mengundang kita dan telah bersusah payah mengupayakannya – makanlah! Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.” Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menetapkan kewajiban berpuasa dan memuji mereka yang mengerjakan nawafil puasa dan menyatakan puasanya berakhir karena seseorang sebagai adab penghormatan terhadap orang yang menyiapkan makanan. Beliau memberi perintah “Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.“ Inilah futuwwa. Kata ini berarti menempatkan adab penghormatan tamu kepada tuan rumah sebagai tindakan mulia di antara adab ibadah lain. Hadis ini
berasal dari Baihaqi dan Daraqutni dari Jabir.
Satu lagi yang berkenaan dengan makanan ialah bahwa seekor domba telah ditawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mulai memotong-motongnya dan membagikan dagingnya. Sayidah Aisyah, semoga Allah memberi salam kepadanya, berkata “hanya tingal bagian leher untuk kita.” Beliau memandanginya dan berkata, “Semua masih ada kecuali lehernya.” Inilah yang dikatakan futuwwa.
Futuwwa ialah bahwa tidak ada kesulitan atau ujian bagi seseorang sehingga melalaikan dari pengabdian kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Imam Junayd berkata pada suatu hari yang menyenangkan aku pergi
mengunjungi Sufi Salih Saqarti dan dia mengatakan padaku, “Ya, Abul Qasim! Tadi malam rohku mendengar sebuah suara dan suara itu mengatakan, “Ya Salih. Pertama Aku ciptakan manusia dan semua
mereka menghadap-Ku dan mengunjungi-Ku. Kemudian Aku perlihatkan kepada mereka dunia dan sembilan dari sepuluh meninggalkan-Ku, sisanya tetap bersama-Ku. Kemudian Aku ceritakan tentang jannah dan
sembilan dari sepuluh menginginkannya dan satu di antara yang sepuluh itu bersama-Ku. Pada mereka aku timpakan kesulitan dan ujian sehingga mereka menjadi lemah dan minta pertolongan sampai sembilan
dari sepuluh menjadi jauh dari-Ku. Kepada yang tinggal Aku berfirman, ‘Kalian tidak menginginkan dunia, kalian tidak menginginkan jannah dan engkau tidak menghindar dari ujian-Ku.’ Dan mereka menjawab,
‘Kami berserah diri Ya Allah sepanjang semuanya berasal dari-Mu.’”
Futuwwa merupakan rasa kasih universal yang mengikat manusia dan memutus hubungan dengan pihak lain yang tidak sama kualitasnya dan ini berasal dari ayat :
“Laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin.”
Al Ahzab 35 
Hal ini karena orang-orang dengan futuwwa, baik laki maupun perempuan, harus sama, mereka tidak boleh berbeda. Imam Junayd menceritakan salah seorang guru, seorang manusia dengan futuwwa, Abu Musa Al Kumasi. Pada satu hari Imam Junayd mengisahkan bahwa Abu Musa dan istrinya sedang berada di rumah dan seluruh bangunan rumah roboh menimpa mereka. Teman-teman mereka menggali dan mereka mendapati sang syehkh yang mengatakan “Tinggalkan aku! Carilah istriku!“ Mereka menggali lagi dan akhirnya mereka menemukannya. Si istri berkata “Jangan pedulikan aku! Tinggalkan aku dan carilah Syech Abu Musa!” Kepedulian ini harus merupakan kepedulian timbal balik dari kedua pihak.
Oleh karena itu, puncak futuwwa ialah dampak tertinggi petunjuk yang benar. Ini merupakan ilmu tertinggi karena futuwwa berarti bahwa kekasih harus mematuhi keinginan Yang Dikasihi. Sekali lagi, dalam pandangan Imam Junayd yang merupakan Imam para sufi, yang dikemukakan ketika Abu Hafs itu ada di dekatnya, yang merupakan seorang sufi besar dan sangat dimuliakan dalam kitab Kashf al Mahjub Hujwiri.
Imam Junayd memberikan definisi tentang futuwwa dan dia memandang Abu Hafs dan berkata, “Abu Hafs, apa menurutmu?“ Abu Hafs mengatakan, “Futuwwa ialah bahwa engkau memberikan keadilan dan tidak pernah mengharapkannya.“ Imam Junayd berkata, “Itulah jawaban terbaik.“
Suatu hari Abu Husayn an-Nuri mengunjungi halaqah Imam Junayd - di sana terdapat pertemuan para sufi yang sangat penting tempat mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan yang terbaik dan
termurni tentang ungkapan dan rasa cinta akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Dan Abu Husayn berkata, “Aku diberitahu bahwa engkau dapat memberi wacana dalam setiap masalah. Ceritakan kepadaku tentang
pilihanmu dan aku pada giliranku akan menambah bukti lain.” Imam Junayd berkata. “Tentang apa engkau ingin aku bicara?” An Nuri berkata, “Tentang cinta.“
Junayd berujar, “Aku akan menceritakan sebuah kisah. Teman-temanku dan aku berada dalam sebuah kebun buah-buahan. Salah satu di antara kami mengambil beberapa buah dan kembali lagi lalu kami pergi menuju teras si petani untuk melihat-lihat mereka dan kemudian kami melihat ada seorang buta yang ditemani seorang pemuda ganteng. Tiba-tiba kami mendengar si buta berkata : ‘Engkau telah memerintahkan aku
melakukan ini dan itu dan aku laksanakan perintahmu. Engkau melarangku berbuat begini dan begitu dan aku tidak melakukan itu semua. Aku tidak pernah mengingkari perintahmu sekali pun, apa lagi
yang engkau inginkan dariku?’
Si pemuda menjawab, ‘Matilah engkau.’ Si buta berkata, ‘Baik. Aku akan mati.’ Dia menelentangkan badan di tanah dan menutupi mukanya.“ Junaydi melanjutkan, “Aku katakan pada sahabat-sahabatku, ’Si buta tentu saja tampak tidak lagi bernyawa tetapi tentu saja tidak mati. Dia hanya tampak mati.’ Lalu kami mendatanginya dan memeriksanya dan memastikan bahwa dia memang benar-benar sudah meninggal.” An-Nuri
bangkit dan meninggalkan tempat tanpa tambahan sepatah kata pun.
Agar Terus Berubah
Fuqara berdoa agar mereka selalu berada dalam perubahan. Doa para sufi ialah, “Ya Allah, jagalah aku dalam perubahan.” Pelihara aku tetap dalam perubahan karena segala hal selalu berubah dan setiap
hari Allah selalu dalam penciptaan baru. Kita harus memperbarui dan memperbarui diri. Kita harus selalu dalam perubahan. Kita harus ingat bahwa fuqara merupakan golongan yang tertinggi. Kita harus selalu berkumpul dengan yang lain. Kita harus bepergian ke tempat mana pun. Kita harus menjadi tauladan bagi mereka dan mengambil mereka sebagai tauladan ketika kita berjumpa dengan orang yang berkualitas.
Carilah orang-orang yang memiliki pengetahuan, carilah orang-orang yang mencintai Allah subhaanahu wa ta’ala dan orang-orang dengan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk mengambil adab mulia kita harus menemui mereka yang beradab mulia, orang-orang yang memiliki pengetahuan. Dengan cara berkumpul bersama kita akan dimurnikan. Tasawuf berarti berkelompok selalu, kemudian tasawuf adalah mendengarkan, kemudian tasawuf adalah bertindak sesuai dengan apa yang kita dengar.
Hanya ada satu musuh dan itu diri kita sendiri. Nafs tidak memiliki kebaikan sedikit pun di dalamnya. Hal-hal terburuk bagi para sufi ialah pengenalan akan kualitas baik mereka sendiri dan mengingkari kebaikan orang lain - inilah yang akan menarik mundur mereka dan menghancurkan perjalanan menuju takdir. Kita tidak boleh melihat kebaikan yang ada pada diri kita, kita harus menganggapnya sebagai sesuatu yang dengan diri mereka sendiri lenyap oleh kesadaran kita tentang kualitas itu. Kita tidak melihat diri kita sendiri.
Jangan kita mencari kesalahan pada orang lain. Carilah kesalahan pada diri kita sendiri. Kita harus memandang diri kita sendiri dan bertanya, “Apa yang salah dengannya?” Harist al Muhasibi telah menghabiskan
hari-harinya, melewati jam-jamnya dan menit-menitnya dan kemudian menghabiskan nafasnya dan kemudian dia meyakini bahwa itu menyenangkan Allah, bahwa itu diterima oleh Allah. Dua ulama besar
bertemu di Baghdad, di sana mereka beradu argumen dan bertikai satu dengan yang lain. Pada akhirnya satu di antara mereka berkata,”Mari kita bertemu lagi besok dan membahas masalah ini lebih lanjut dan
yang lain mengatakan, “Tidak, mari kita bertemu besok dan berdamai lalu melupakan semua perdebatan ini.” Inilah jalan kaum Sufi - memulai lagi. Kita tidak boleh membatasi diri pada pemaafan atas
kesalahan orang lain tetapi kita tidak boleh mengukur yang ada dalam diri sendiri. Setiap kesadaran akan diri sendiri akan menyesatkan. Kita harus berpaling dari nafsu dan cara berpaling dari nafsu bukan
merupakan metode psikologi tetapi dzikrullah.
Ar Rad 28 

“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Kita harus berdzikir kepada Allah. Kita harus mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Kita harus mohon kepada Allah. Kita tidak boleh berada di kalangan orang-orang yang tidak mencintai Allah. Kita harus berada bersama dengan mereka yang mencintai Allah, kita memerlukan mereka. Kita memerlukan orang-orang yang beserta dengan Allah karena mereka akan mengingatkan kita akan Allah. Kita memerlukan orang-orang yang berpengetahuan karena kita akan menjadi kuat dalam Dien dan kita akan menjadi benar dalam Dien ketika setiap
mesjid punya cara berbeda dalam beribadah.
Kita harus berkata yang baik-baik tentang orang lain dan berprasangka baik terhadap orang. Kita harus menjadi orang-orang yang ber-futuwwa, kita harus menjadi orang-orang yang dibicarakan karena memiliki hikmah yang berskala universal sehingga ketika kita mengunjungi Ka’bah, dengan segenap kesulitan di sana, kita harus mencari hamba-hamba Allah di sana dan duduk bersama mereka.
Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia. Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia sampai diri kita selamat dan saat kita selamat tidak ada kaitannya dengan tempat kita berada. Kita harus memiliki takwa dan harus bersikap wara’. Kita harus berhati-hati, waspada hingga kita berada di siratal mustaqim karena ketika ada yang tidak beres kita harus ingat bahwa semua yang kita dapatkan kembali kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.
Ingat, bahkan taubat tidak ada kaitan dengan kita – ini karena Allah menentukan untuk kita taubat ini karena Dia menginginkan, sehingga sekalipun kita telah bertaubat tetap bukan milik kita, bukanlah prestasi kita. Permintaan maaf kita bukanlah prestasi baik kita, ini sekadar tuntutan Allah kepada kita dan pengakuan bahwa Allah menyuruh kita. Kita ini milik Allah.
Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Inilah yang harus kita katakan pada diri kita. Kita tidak boleh terpesona oleh dunia. Ingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa sekeping logam pada orang miskin sama bahayanya dengan sebongkah emas pada orang kaya, sehingga kita harus bersikap murah hati. Untuk bermurah hati jalannya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus bermurah hati, kita harus berprasangka baik terhadap orang lain, kita tidak boleh mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang lain dan jika kita melakukannya maka kita harus bertaubat dan
membersihkannya dan kita harus minta maaf. Jika seseorang menentang kita habis-habisan dan benar-benar dalam kesalahan kita harus memaafkannya dan harus melupakannya dan kita harus bertaubat dan
memperbaiki diri. Beginilah cara Dien selalu diamalkan. Beginilah orang-orang mulia jaman dahulu menjalani hidup mereka.
Sekadar mengingatkan diri kita, lihat futuwwa dalam organisasi orang-orang yang menamakan diri mereka al Fatah yang mencoba mendinamit pemuda-pemuda musuh dan menghadapi mereka ketika penduduk menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyingkirkan para pemuda sehingga mereka dapat berjuang fi sabilillah, berjuang demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan demikian Dien harus dimulai kembali dalam segala hal. Kitalah orang yang harus memulai dan di benua ini harus dimulai. Hal ini berasal dari penduduk dan anak-anak kita, kita harus memiliki adab terhadap mereka, kita harus memperlakukan mereka dengan kehangatan. Kita harus memperlakukan anak-anak kita, pemuda dan orang tua dengan sopan santun, kita harus menjadi orang beradab dan jika kita menjadi orang beradab kita akan selamat. Jika kita menjadi orang beradab kita akan menjadi sufi. Attariqa kulluha adab. Tarekat tidak lain adalah adab- semuanya adalah adab.
Kita juga harus memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri. Rasa hormat terhadap diri sendiri akan terwujud hanya jika semua orang di sekitar kita merasa tenang dan dalam keadaan harmonis dengan kita dan merasa senang kita ada di sana. Seperti inilah kita seharusnya. Kita harus menjadi berkah untuk alam semesta, untuk semua orang. Kita harus menjadi orang yang ketika memasuki sebuah ruang semua merasa senang karena cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kita kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan karena lidah kita selalu menyebut Allah dan bukan remeh temeh dunia. Peristiwa dunia pasti terjadi. Segala strategi dan keruntuhannya tidak akan menggoyahkan telinga kita, semuanya selalu terjadi dan akan terus terjadi. Pada saat ashabul Kahfi keluar, mereka berhadapan kembali dengan dunia dan segala persoalan dan semua kesulitan tetapi Allah mencintai orang-orang yang memiliki tawhid dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya dan ini merupakan kelompok, jamaah kaum Sufi.
Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar memberi dalam kehidupan kita jamaah para sufi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar tasawuf tumbuh dan berkembang di mana saja bagian dunia yang kita datangi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar kita lebih memilih jamaah orang-orang yang hanya menginginkan Allah dibanding yang lain dan berilah kita keuntungan di dunia ini. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar menjadikan diri kita siap menghadapi ujian yang datang sehingga mampu mengatasinya. Alhamdulillahi ala kulli hal. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala untuk memberi rahmat para imam serta para penjaganya dan semoga tetap menjadi saksi bagi Islam sebagaimana terjadi pada masa-masa sulit dahulu. Amien.
Recent Comments