Articles by admin

You are currently browsing admin’s articles.

Depok, 20 Juni 2011
Dompet Dhuafa Kembali Bagikan Zakat Dirham

Yayasan Dompet Dhuafa (YDD) Republika bersama Baitul Mal Nusantara kembali bagikan zakat mal dalam Dirham.

Sepanjang tahun 2010-2011 lalu Dompet Dhuafa (DD) Republika, bersama Baitul Mal Nusantara (BMN), telah membagikan zakat mal Dirham perak kepada mustahik yang berhak. Total zakat mal yang dibagikan lebih dari 8000 Dirham, berasal dari muzakki yang memberikan kepada Dompet Dhuafa sebanyak 2000 Dirham. Sisanya yang ditarik lewat Baitul Mal Nusantara.

Kini, untuk periode 2011-2012, kembali Dompet Dhuafa menyalurkan sebagian zakat malnya melalui kegiatan BMN, yaitu rangkaian Festival Hari Pasaran (FHP). Total zakat mal yang disalurkan juga hampir sama dengan periode sebelumnya, tepatnya 1963 Dirham. Dari Baitul Mal Nusantara sendiri setiap kali ada penarikan zakat akan dibagikan terutama juga di sekitar penyelenggaraan FHP.

Untuk periode ini, rangkaian FHP telah berlangsung beberapa kali, dan pembagian zakat mal juga sudah mulai dilakukan. Pekan lalu, dua FHP berlangsung serentak, di Bandung dan di Bantul, dengan pembagian zakat masing-masing 50 Dirham. Pekan depan, 26 Juni 2011, FHP kembali akan berlangsung di Bekasi, juga dengan pembagian zakat mal sebanyak 50 Dirham.

Berkah pembagian zakat dalam Dirham sudah langsung terasakan. Salah satunya, jumlah mustahik yang menerima pembagian zakat mal Dirham tahun ini dipastikan jauh lebih besar, meski dengan jumlah Dirham yang sama. Mengapa? Karena daya beli Dirham yang telah meningkat sekitar 100% dalam setahun ini. Pada periode lalu setiap mustahik rata-rata mendapatkan 1-2 Dirham, yang cukup untuk membeli satu paket sembako. Kini tiap mustahik cukup diberi 0.5-1 Dirham untuk membeli barang yang sama.

Bagi Anda yang telah mengetahui harta Anda jatuh tempo untuk mebayarkan zakat, yaitu bila memenuhi nisabnya, setara 20 Dinar emas atau 200 Dirham perak, dapat men ghubungi petugas zakat di BMN.

Baitul Mal Nusantara (BMN)

Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.
Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/
email: abdarrahman@bmnusantara.org.

Futuwwa

Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi

Kita akan membahas satu istilah sufi, yang dalam pengertian tertentu, selaras dengan tawhid yang menempatkan kita pada pemahaman akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Istilah yang dimaksud atau ditransformasikan oleh tawhid dalam diri kaum muslim yang mendapat pengetahuan tawhid. Ini merupakan istilah teknis yang kita telusuri dari Al-Qur’an, yakni futuwwa.

Futuwwa berarti sejenis akhlak mulia. Ada orang yang menerjemahkannya sebagai sikap kesatria tetapi kata ini tidak ada hubungannya dengan kuda perang. Kata ini berhubungan dengan kapasitas besar atau kualitas pengetahuan bagi abdi Allah subhaanahu wa ta’ala.

Tiga Ayat Sebagai Landasan

Kita akan mengambil tiga ayat. Sebetulnya ada ayat-ayat lain tetapi yang tiga ini merupakan yang paling penting yang mendefinisikan futuwwa. Futuwwa berasal dari kata fata yang berarti “pemuda”. Kata majemuknya fatyan dan fataya untuk jenis wanita. Sebagaimana kita lihat dalam al Qur’an kata ini sebagai fata.
Pertama kita lihat pada surat al Kahfi yakni ayat 18 dan 13. Kata ini mengacu pada para pemuda yang dimasukkan ke dalam gua dan Allah
berfirman:

Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman dan kami tambahkan pada mereka petunjuk

Al Kahfi 13

Kita akan kembali lagi pada surat Kahfi tetapi kita akan beralih dulu pada surat al Anbiya, surat 21, ayat 60 yang menyatakan.”Mereka mengatakan Kami mendengar seorang pemuda menyebut-nyebut berhala-berhala itu, mereka memanggilnya Ibrahim

Al
Anbiya 60

Ayat ini mengacu pada momen yang terkenal ketika sayidina Ibrahim as, tidak sekadar menghancurkan berhala tetapi dengan petunjuk ilahi dia melakukan penghancuran ini dan inilah tindakan yang menghabiskan mereka karena dia tidak mengatakan “Aku menghancurkannya“, sebagaimana mereka mengatakan, tetapi dia mengatakan “Tidak, yang terbesarlah yang melakukannya.” Mereka mengatakan, “Ini merupakan olok-olok. Bagaimana mungkin sebuah berhala mampu menghancurkan berhala lain?”. Pada titik ini Ibrahim mengungkapkan semua kejadian dengan ijin Allah- bahwa mereka tidak mempunyai kekuasaan. Ini merupakan indikasi pengaruh fata yang mengubah seluruh situasi peribadatan yang salah.

Nanti kita akan
kembali ke surat Anbiya tetapi sekarang kita akan kembali dulu ke
surat Kahfi, ayat 60.

Dan ingatlah ketika Musa berkata pada pengiring-mudanya, aku tidak akan berhenti sampai tiba pada pertemuan dua lautan.”

Musa mengatakannya pada fata-nya, pada pengiring-mudanya. Di sini kita memiliki tiga contoh penggunaan kata ini dan di dalam masing-masingnya ada pemuda yang diberi pengetahuan oleh Allah. Ashabul Kahfi, merupakan orang-orang yang beriman kepada Allah dan “Kami menambahkan petujuk pada mereka,” karena mereka mengharapkan tawhid murni, mereka tidak akan menerima berhala dan mereka tunduk pada ketentuan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam kejadian tersebut. Yang kedua ialah Nabi Ibrahim as dan ini merupakan pengamalan pengetahuan tawhid yang mengalahkan kaum musyrikin.

Yang ketiga sangat penting yang berisi tentang Sayidina Musa yang menyingkap hikmah dari Allah subhaanahu wa ta’ala dan mengatakan pada pemuda yang menyertainya bahwa dia tidak akan menyerah sampai dia sampai pada tempat bertemunya dua laut. Karena dia seorang nabi dia juga mengajari pemuda itu agar mengikuti jalan nabi sehingga dia tidak akan menyerah sebelum sampai tempat pertemuan dua laut. Bagi kaum sufi, pertemuan dua laut merupakan tempat, dalam kata-kata Ata’illah, pertemuan syari’at dan hakikat karena bagi orang yang mengetahuinya, syari’at tidak memisahkannya dari hakikat dan hakikat tidak memisahkannya dari syari’at. Dia memberikan kepada masing-masing haknya.

Inilah tiga hal yang menjadi landasan kata fata, pemuda yang berpengetahuan, dengan kemuliaan spiritual. Jadi acuan Qur’an pada Ashabul Kahfi yang tidak akan menyembah berhala tetapi memilih tinggal di gua guna menyelamatkan tawhid mereka, nabi Ibrahim as yang menggunakan kemampuan inteleknya untuk menghancurkan kesyirikan penyembahan berhala dalam upaya unjuk
ke-
tawhid-an dan pengiring sayidina Musa as yang telah membantunya mencapai tujuan karena hal ini merupakan bagian cara Allah mengungkapkan pada Musa akan pengetahuan yang tinggi, bersifat ilahi, yang dia perlukan dalam menjalankan misi sebagai utusan Allah kepada kaumnya.

Ini berarti bahwa futuwwa, kemuliaan, merupakan pintu menuju petunjuk. Kita kembali pada surat al Kahfi ayat 10. Pemuda itu berlindung di gua dan mengatakan, “Ya Allah, beri kami rahmat-Mu langsung dan bukakan jalan bagi Anda kepada petunjuk yang benar pada urusan kami ini.”

Al Kahfi 10

Min ladunka berarti langsung dari-Mu dan ini berarti petunjuk ilahi. Ini berarti tajaliyah Dzat dalam bahasa sufi- penyingkapan ilahiah akan Esensi Allah subhaanahu wa ta’ala. Min amrina rashada- kita sampai pada kata kunci yang berkaitan dengan futuwwa yakni rushd.

Rashada berarti petunjuk yang benar. Sekarang kita beralih ke surat al Anbiya dan kita akan kembali lagi ke surat Kahfi.

Kita lihat kesempurnaan Qur’an bahwa ketiga hal ini berkaitan erat, hal-hal yang luar biasa ini berhubungan secara sempurna dan bahwa kata-kata Qur’an secara ilahi diarahkan pada makna-makna yang spesifik ini.
Sekarang kita beralih ke sayidina Ibrahim pada ayat 51. ”
Kami memberi Ibrahim petunjuk yang benar dan Kami menyempurnakan pengetahuan atasnya.

Al Anbiya 51

Tentu ada maksud sehingga Allah menyatakan bahwa petunjuk yang benar ini diberikan sebelum terjadi peristiwa, bahwa kedudukan tinggi sayidina Ibrahim as mendahuluinya. Allah memberi petunjuk yang benar sebelum peristiwanya sendiri terjadi, sebelum pertemuan dengan kaum musyrikin sehingga ketika saat itu tiba dia telah memiliki pengetahuan ilahiah dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Hal ini bukanlah berasal dari inteleknya yang berasal dari otak tetapi inteleknya dalam pengertian percikan sinar kesadaran pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan guna memerangi kaum musyrik.

Kemudian Allah menyatakan hal yang sangat menarik. “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Kita tentu tidak akan merasa heran jika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan pada titik itu bahwa Ibrahim telah memiliki pengetahuan lengkap atas Allah tetapi Allah menyatakan, “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Ini berlanjut dengan ayat ketika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan :

Surat al Maidah 54

Kami mencintai mereka dan mereka mencintai Kami.” Sehingga “Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya dan dia mempunyai pengetahuan lengkap atas Kami,” yang menyebabkan mengapa Ibrahim mempunyai nama yang sangat istimewa, dia dinamakan al Khalil. Syech Ibnu Arabi menjelaskan bahwa al khalil berasal dari satu istilah bahasa Arab yang berarti bercampur
sampai jenuh
. Jika kita meletakkan kain wol ke dalam air dan kain ini akan selengkapnya bercampur sampai jenuh sehingga sekalipun wol tetap wol dan air tetap air, wol itu sepenuhnya adalah air dan air itu
sepenuhnya adalah wol tanpa inkarnasi atau kemanunggalan. Hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan tetapi terjadi kejenuhan pengetahuan ini dalam kecintaan Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Ibrahim as dan cinta Ibrahim untuk Allah subhaanahu wa ta’ala.

Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya.” Dalam inversi ini sangat penting disadari ketinggian kedudukan Ibrahim di antara nabi lain. Kita akan melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat beragam acuan yang sangat istimewa mengenai Ibrahim dan mengidentifikasi dirinya dengan Ibrahim dengan berbagai cara. Penggunaan kata huda yang dapat dimilikkan pada Ibrahim merupakan kata yang dibawa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya.

Sekarang kita sampai pada hal ketiga pada surat al Kahfi, Musa mengatakan padanya, “Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu?

Al Kahfi 66

Kandungan ayat ini luar biasa sehingga kita dapat terkecoh dalam memahami seluruh kisah sayidina Musa karena hal ini penuh makna bagi kaum Sufi. Di dalamnya Allah memilih untuk nabi-Nya makna kesempurnaan kedudukannya yang tinggi dan tugas yang sangat sulit yang diembannya. Dia diberi instruktur alami yang sangat mirip dengan cerita kedatangan malaikat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis Muslim. Diriwayatkan kedua pasang lutut mereka saling bertemu dan malaikat bertanya kepada nabi tentang Islam, iman dan ihsan - pengajaran dari Yang Gaib kepada dunia yang maujud dalam sebuah pertemuan yang sangat istimewa. Hal ini sama dengan yang dialami nabi Musa dalam pertemuannya yang sangat terkenal, dengan ketiga kejadian yang dalam pandangan sekilas tampak salah tetapi
kemudian ternyata terungkap makna yang sebenarnya.

Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu? Ajari aku beberapa rashada yang telah diajarkan kepadamu. Kau beri aku rashada yang aku inginkan darimu. Untuk itulah pertemuan ini terjadi, guna mendapat rashada.“
Dalam pengertian ini, ada
ashabul kahfi, ada nabi Ibrahim selaku seorang pemuda dan ada pengiring nabi Musa dan masing-masing mengandung ajaran tentang tawhid sehingga kita menghubungkan futuwwa dengan rashada. Dengan demikian futuwwa merupakan pintu menuju petunjuk yang benar.

Acuan teknis pertama tentang fityan berasal dari Hasan al Bashri yang merupakan salah satu Syech tarekat kita, sehingga apa pun yang dia katakan menjadi sangat penting buat kami, dan berkat kedekatannya dengan para sahabat dan tabiin. Dia mengatakan bahwa pada masa awal fityan, orang yang berasal dari fityan ini tidak dikenal melalui kata-katanya tetapi melalui perbuatan mereka dan itulah yang mungkin dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat. Ketika kita melakukan wirid kita memohon dua kali kepada Allah agar diberi pengetahuan yang bermanfaat, ‘ilman nafian dan dia mengatakan bahwa inilah perbuatan para pemuda yakni ilmu yang bermanfaat, inilah yang mereka inginkan – inilah pengetahuan dalam bentuk perbuatan.

Tuntunan Nabi

Sekarang kita beralih dari Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita mendapatkan hal yang sangat menarik. Seorang lelaki menyiapkan makanan untuk menjamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beberapa sahabat. Pada saat hidangan datang salah seorang di antara mereka menolak makan dengan mengatakan dia sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
“Saudaramu telah mengundang kita dan telah bersusah payah mengupayakannya – makanlah! Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.” Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menetapkan kewajiban berpuasa dan memuji mereka yang mengerjakan
nawafil puasa dan menyatakan puasanya berakhir karena seseorang sebagai adab penghormatan terhadap orang yang menyiapkan makanan. Beliau memberi perintah “Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.“ Inilah futuwwa. Kata ini berarti menempatkan adab penghormatan tamu kepada tuan rumah sebagai tindakan mulia di antara adab ibadah lain. Hadis ini
berasal dari Baihaqi dan Daraqutni dari Jabir.

Satu lagi yang berkenaan dengan makanan ialah bahwa seekor domba telah ditawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mulai memotong-motongnya dan membagikan dagingnya. Sayidah Aisyah, semoga Allah memberi salam kepadanya, berkata “hanya tingal bagian leher untuk kita.” Beliau memandanginya dan berkata, “Semua masih ada kecuali lehernya.” Inilah yang dikatakan futuwwa.

Futuwwa ialah bahwa tidak ada kesulitan atau ujian bagi seseorang sehingga melalaikan dari pengabdian kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Imam Junayd berkata pada suatu hari yang menyenangkan aku pergi
mengunjungi Sufi Salih Saqarti dan dia mengatakan padaku, “Ya, Abul Qasim! Tadi malam rohku mendengar sebuah suara dan suara itu mengatakan, “Ya Salih. Pertama Aku ciptakan manusia dan semua
mereka menghadap-Ku dan mengunjungi-Ku. Kemudian Aku perlihatkan kepada mereka dunia dan sembilan dari sepuluh meninggalkan-Ku, sisanya tetap bersama-Ku. Kemudian Aku ceritakan tentang jannah dan
sembilan dari sepuluh menginginkannya dan satu di antara yang sepuluh itu bersama-Ku. Pada mereka aku timpakan kesulitan dan ujian sehingga mereka menjadi lemah dan minta pertolongan sampai sembilan
dari sepuluh menjadi jauh dari-Ku. Kepada yang tinggal Aku berfirman, ‘Kalian tidak menginginkan dunia, kalian tidak menginginkan jannah dan engkau tidak menghindar dari ujian-Ku.’ Dan mereka menjawab,
‘Kami berserah diri Ya Allah sepanjang semuanya berasal dari-Mu.’”

Futuwwa merupakan rasa kasih universal yang mengikat manusia dan memutus hubungan dengan pihak lain yang tidak sama kualitasnya dan ini berasal dari ayat :

Laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin.”

Al Ahzab 35

Hal ini karena orang-orang dengan futuwwa, baik laki maupun perempuan, harus sama, mereka tidak boleh berbeda. Imam Junayd menceritakan salah seorang guru, seorang manusia dengan futuwwa, Abu Musa Al Kumasi. Pada satu hari Imam Junayd mengisahkan bahwa Abu Musa dan istrinya sedang berada di rumah dan seluruh bangunan rumah roboh menimpa mereka. Teman-teman mereka menggali dan mereka mendapati sang syehkh yang mengatakan “Tinggalkan aku! Carilah istriku!“ Mereka menggali lagi dan akhirnya mereka menemukannya. Si istri berkata “Jangan pedulikan aku! Tinggalkan aku dan carilah Syech Abu Musa!” Kepedulian ini harus merupakan kepedulian timbal balik dari kedua pihak.

Oleh karena itu, puncak futuwwa ialah dampak tertinggi petunjuk yang benar. Ini merupakan ilmu tertinggi karena futuwwa berarti bahwa kekasih harus mematuhi keinginan Yang Dikasihi. Sekali lagi, dalam pandangan Imam Junayd yang merupakan Imam para sufi, yang dikemukakan ketika Abu Hafs itu ada di dekatnya, yang merupakan seorang sufi besar dan sangat dimuliakan dalam kitab Kashf al Mahjub Hujwiri.
Imam Junayd memberikan definisi tentang
futuwwa dan dia memandang Abu Hafs dan berkata, “Abu Hafs, apa menurutmu?“ Abu Hafs mengatakan, “Futuwwa ialah bahwa engkau memberikan keadilan dan tidak pernah mengharapkannya.“ Imam Junayd berkata, “Itulah jawaban terbaik.“

Suatu hari Abu Husayn an-Nuri mengunjungi halaqah Imam Junayd - di sana terdapat pertemuan para sufi yang sangat penting tempat mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan yang terbaik dan
termurni tentang ungkapan dan rasa cinta akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Dan Abu Husayn berkata, “Aku diberitahu bahwa engkau dapat memberi wacana dalam setiap masalah. Ceritakan kepadaku tentang
pilihanmu dan aku pada giliranku akan menambah bukti lain.” Imam Junayd berkata. “Tentang apa engkau ingin aku bicara?”
An Nuri berkata, “Tentang cinta.“

Junayd berujar, “Aku akan menceritakan sebuah kisah. Teman-temanku dan aku berada dalam sebuah kebun buah-buahan. Salah satu di antara kami mengambil beberapa buah dan kembali lagi lalu kami pergi menuju teras si petani untuk melihat-lihat mereka dan kemudian kami melihat ada seorang buta yang ditemani seorang pemuda ganteng. Tiba-tiba kami mendengar si buta berkata : ‘Engkau telah memerintahkan aku
melakukan ini dan itu dan aku laksanakan perintahmu. Engkau melarangku berbuat begini dan begitu dan aku tidak melakukan itu semua. Aku tidak pernah mengingkari perintahmu sekali pun, apa lagi
yang engkau inginkan dariku?’

Si pemuda menjawab, ‘Matilah engkau.’ Si buta berkata, ‘Baik. Aku akan mati.’ Dia menelentangkan badan di tanah dan menutupi mukanya.“ Junaydi melanjutkan, “Aku katakan pada sahabat-sahabatku, ’Si buta tentu saja tampak tidak lagi bernyawa tetapi tentu saja tidak mati. Dia hanya tampak mati.’ Lalu kami mendatanginya dan memeriksanya dan memastikan bahwa dia memang benar-benar sudah meninggal.” An-Nuri
bangkit dan meninggalkan tempat tanpa tambahan sepatah kata pun.

Agar Terus Berubah

Fuqara berdoa agar mereka selalu berada dalam perubahan. Doa para sufi ialah, “Ya Allah, jagalah aku dalam perubahan.” Pelihara aku tetap dalam perubahan karena segala hal selalu berubah dan setiap
hari Allah selalu dalam penciptaan baru. Kita harus memperbarui dan memperbarui diri. Kita harus selalu dalam perubahan. Kita harus ingat bahwa
fuqara merupakan golongan yang tertinggi. Kita harus selalu berkumpul dengan yang lain. Kita harus bepergian ke tempat mana pun. Kita harus menjadi tauladan bagi mereka dan mengambil mereka sebagai tauladan ketika kita berjumpa dengan orang yang berkualitas.

Carilah orang-orang yang memiliki pengetahuan, carilah orang-orang yang mencintai Allah subhaanahu wa ta’ala dan orang-orang dengan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk mengambil adab mulia kita harus menemui mereka yang beradab mulia, orang-orang yang memiliki pengetahuan. Dengan cara berkumpul bersama kita akan dimurnikan. Tasawuf berarti berkelompok selalu, kemudian tasawuf adalah mendengarkan, kemudian tasawuf adalah bertindak sesuai dengan apa yang kita dengar.

Hanya ada satu musuh dan itu diri kita sendiri. Nafs tidak memiliki kebaikan sedikit pun di dalamnya. Hal-hal terburuk bagi para sufi ialah pengenalan akan kualitas baik mereka sendiri dan mengingkari kebaikan orang lain - inilah yang akan menarik mundur mereka dan menghancurkan perjalanan menuju takdir. Kita tidak boleh melihat kebaikan yang ada pada diri kita, kita harus menganggapnya sebagai sesuatu yang dengan diri mereka sendiri lenyap oleh kesadaran kita tentang kualitas itu. Kita tidak melihat diri kita sendiri.

Jangan kita mencari kesalahan pada orang lain. Carilah kesalahan pada diri kita sendiri. Kita harus memandang diri kita sendiri dan bertanya, “Apa yang salah dengannya?” Harist al Muhasibi telah menghabiskan
hari-harinya, melewati jam-jamnya dan menit-menitnya dan kemudian menghabiskan nafasnya dan kemudian dia meyakini bahwa itu menyenangkan Allah, bahwa itu diterima oleh Allah. Dua ulama besar
bertemu di Baghdad, di sana mereka beradu argumen dan bertikai satu dengan yang lain. Pada akhirnya satu di antara mereka berkata,”Mari kita bertemu lagi besok dan membahas masalah ini lebih lanjut dan
yang lain mengatakan, “Tidak, mari kita bertemu besok dan berdamai lalu melupakan semua perdebatan ini.” Inilah jalan kaum Sufi - memulai lagi. Kita tidak boleh membatasi diri pada pemaafan atas
kesalahan orang lain tetapi kita tidak boleh mengukur yang ada dalam diri sendiri. Setiap kesadaran akan diri sendiri akan menyesatkan. Kita harus berpaling dari nafsu dan cara berpaling dari nafsu bukan
merupakan metode psikologi tetapi
dzikrullah.

Ar Rad 28

Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” Kita harus berdzikir kepada Allah. Kita harus mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Kita harus mohon kepada Allah. Kita tidak boleh berada di kalangan orang-orang yang tidak mencintai Allah. Kita harus berada bersama dengan mereka yang mencintai Allah, kita memerlukan mereka. Kita memerlukan orang-orang yang beserta dengan Allah karena mereka akan mengingatkan kita akan Allah. Kita memerlukan orang-orang yang berpengetahuan karena kita akan menjadi kuat dalam Dien dan kita akan menjadi benar dalam Dien ketika setiap
mesjid punya cara berbeda dalam beribadah.

Kita harus berkata yang baik-baik tentang orang lain dan berprasangka baik terhadap orang. Kita harus menjadi orang-orang yang ber-futuwwa, kita harus menjadi orang-orang yang dibicarakan karena memiliki hikmah yang berskala universal sehingga ketika kita mengunjungi Ka’bah, dengan segenap kesulitan di sana, kita harus mencari hamba-hamba Allah di sana dan duduk bersama mereka.

Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia. Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia sampai diri kita selamat dan saat kita selamat tidak ada kaitannya dengan tempat kita berada. Kita harus memiliki takwa dan harus bersikap wara’. Kita harus berhati-hati, waspada hingga kita berada di siratal mustaqim karena ketika ada yang tidak beres kita harus ingat bahwa semua yang kita dapatkan kembali kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.

Ingat, bahkan taubat tidak ada kaitan dengan kita – ini karena Allah menentukan untuk kita taubat ini karena Dia menginginkan, sehingga sekalipun kita telah bertaubat tetap bukan milik kita, bukanlah prestasi kita. Permintaan maaf kita bukanlah prestasi baik kita, ini sekadar tuntutan Allah kepada kita dan pengakuan bahwa Allah menyuruh kita. Kita ini milik Allah.

Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Inilah yang harus kita katakan pada diri kita. Kita tidak boleh terpesona oleh dunia. Ingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa sekeping logam pada orang miskin sama bahayanya dengan sebongkah emas pada orang kaya, sehingga kita harus bersikap murah hati. Untuk bermurah hati jalannya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus bermurah hati, kita harus berprasangka baik terhadap orang lain, kita tidak boleh mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang lain dan jika kita melakukannya maka kita harus bertaubat dan
membersihkannya dan kita harus minta maaf. Jika seseorang menentang kita habis-habisan dan benar-benar dalam kesalahan kita harus memaafkannya dan harus melupakannya dan kita harus bertaubat dan
memperbaiki diri. Beginilah cara Dien selalu diamalkan. Beginilah orang-orang mulia jaman dahulu menjalani hidup mereka.

Sekadar mengingatkan diri kita, lihat futuwwa dalam organisasi orang-orang yang menamakan diri mereka al Fatah yang mencoba mendinamit pemuda-pemuda musuh dan menghadapi mereka ketika penduduk menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyingkirkan para pemuda sehingga mereka dapat berjuang fi sabilillah, berjuang demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan demikian Dien harus dimulai kembali dalam segala hal. Kitalah orang yang harus memulai dan di benua ini harus dimulai. Hal ini berasal dari penduduk dan anak-anak kita, kita harus memiliki adab terhadap mereka, kita harus memperlakukan mereka dengan kehangatan. Kita harus memperlakukan anak-anak kita, pemuda dan orang tua dengan sopan santun, kita harus menjadi orang beradab dan jika kita menjadi orang beradab kita akan selamat. Jika kita menjadi orang beradab kita akan menjadi sufi. Attariqa kulluha adab. Tarekat tidak lain adalah adab- semuanya adalah adab.

Kita juga harus memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri. Rasa hormat terhadap diri sendiri akan terwujud hanya jika semua orang di sekitar kita merasa tenang dan dalam keadaan harmonis dengan kita dan merasa senang kita ada di sana. Seperti inilah kita seharusnya. Kita harus menjadi berkah untuk alam semesta, untuk semua orang. Kita harus menjadi orang yang ketika memasuki sebuah ruang semua merasa senang karena cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kita kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan karena lidah kita selalu menyebut Allah dan bukan remeh temeh dunia. Peristiwa dunia pasti terjadi. Segala strategi dan keruntuhannya tidak akan menggoyahkan telinga kita, semuanya selalu terjadi dan akan terus terjadi. Pada saat ashabul Kahfi keluar, mereka berhadapan kembali dengan dunia dan segala persoalan dan semua kesulitan tetapi Allah mencintai orang-orang yang memiliki tawhid dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya dan ini merupakan kelompok, jamaah kaum Sufi.

Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar memberi dalam kehidupan kita jamaah para sufi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar tasawuf tumbuh dan berkembang di mana saja bagian dunia yang kita datangi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar kita lebih memilih jamaah orang-orang yang hanya menginginkan Allah dibanding yang lain dan berilah kita keuntungan di dunia ini. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar menjadikan diri kita siap menghadapi ujian yang datang sehingga mampu mengatasinya. Alhamdulillahi ala kulli hal. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala untuk memberi rahmat para imam serta para penjaganya dan semoga tetap menjadi saksi bagi Islam sebagaimana terjadi pada masa-masa sulit dahulu. Amien.

Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, merupakan Zona Dinar Dirham. Kembali zakat Dirham akan dibagikan.

Di dunia ini barangkali baru di kampung nelayan inilah koin Dirham perak khususnya berputar paling “rutin”. Maklum di sana tak kurang dari 75 kedai, termasuk bengkel las dan jasa tambal ban, telah menerima pembayaran dengan dirham perak sejak hampir dua tahun lalu. Pak Sufyan al Jawi, penggerak masyarakat di sana, menyebutnya sebagai “Zona Dirham”.

Akhir pekan ini, untuk ke sekian kalinya, kembali akan diadakan sebuah kegiatan - untuk terus menjaga kegiatan yang telah berlangsung di sana. Beberapa waktu lalu telah dibuat acara “Cilincing Shopping Day”, ketika serombongan pengunjung datang ke kampung Cilincing, untuk melihat dan membelanjakan dirhamnya.

Sabtu, 21 Mei 2011, sebuah acara pun digagas sengan tajuk “Sehari Bersama Dhuafa Hidupkan Kembali Muamalat ‘Amal Madinah”. Acaranya sederhana saja, umat Islam kembali diudang untuk hadir ke Cilincing, dan berbelanja dengan Dirhamnya. Sementara dari tim Wakala Induk Nusantara (WIN) juga akan berkeliling dari warung ke warung, untuk memberikan tausiyah kepada para pedagang tentang muamalat. Salah satunya adalah dengan para pengelola “Ana Mart”, sebuah toserba di sana. Kegiaan kemudian juga akan dilanjutkan ke Koja, peresmian wakaf “Istana Dhuafa”, yang dikelola oleh para pemuda Muslim setempat.

Dalam kesempatan ini, dari Baitul Mal Nusantara (BMN), akan kembali dibagikan zakat mal. Kali ini sebanyak 100 koin nisfu Dirham.

“Allah melimpahkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa pun yang IA kehendaki.”

Menjelang FHP di Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, 350 Dirham sedekah dibagikan ke dhuafa dan yatim.

Waktu ba’da zuhur, sekitar pukul 13.30, Jum’at, 15 April 2011, warga masyarakat sekitar Madrasah Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, serta anak-anak yatim yang kebanyakan juga murid di madrasah ini, mulai memenuhi ruang majelis taklim. Mereka hadir untuk mendengarkan penjelasan tentang Dinar dan Dirham, serta persiapan penyelenggaraan Festival Hari Pasaran, yang akan berlangsung besok, Selasa, 19 April 2011, mulai jam 9.00 pagi. Di antara hadirin, tentu saja, ada para pedagang yang akan ikut dalam FHP yang baru untuk pertama kalinya ini diadakan di Bogor.

Selain penjelasan umum dari Bpk Zaim Saidi, yang mewakli WIN, para hadirin mendapatkan pemaparan seputar penggunaan Dinar dan Dirham sejak masa Nabi SAW dari Pak Sufyan al Jawi, al Wakil Wakala Keluarga Madani, serta dari Bpk Ikhsan Basha, Wakil Ketua Paguyuban Jawara. Meski banyak di antara peserta adalah orang-orang yang cukup lanjut usia, wajah mereka menunjukkan pemahaman tentang muslihat uang kertas dan perlunya kembali ke Dinar dan Dirham.

Pemaparan juga diberikan oleh Ibu Ida Priyatna, al Wakil Wakala Az Zahra, yang merupakan penggerak FHP Bogor ini, dengan menyatakan manfaat Dinar dan Dirham dalam menyelamatkan perekonomiam masyarakat. “Di tengah kita ini juga bekerja para perampok yang tidak bisa ditangkap polisi. Setiap hari harta kita dicuri oleh perampok ini, yang namanya inflasi,” ujarnya. Dengan kembali menggunakan Dinar dan Dirham, selain sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, kita dapat mencegah pencurian terselubung tersebut.

Sebagai bentuk rasa syukur mereka, Wakala Azzahra, menjelang FHP I Bogor itu, juga telah menitipkan 350 Dirham sedekah untuk dibagikan kepada kaum dhuafa dan yatim piatu sekitar Kotaparis, Bogor. Dengan adanya FHP Bogor, Selasa besok, kaum dhuafa dan para yatim ini dapat membelanjakan Dirham mereka untuk kebutuhan sehari-hari.

Semoga Allah SWT memberkahi keluarga besar Wakala Azzahra, melapangkan rezeki mereka, dan merahmati keluarga ini. Semoga Allah SWT memberkahi kaum dhuafa dan yatim, serta para pedagang yang akan bertransaksi menggunakan Dirham perak, di FHP besok.

(001)

Untuk memulai pengembangan Imarah Baitul Mal Nusantara akan membangun Baitul Makmur. Desain awalnya telah siap.

Dalam rangka mengembangkan peningkatan kesejahteraan umat yang sesuai dengan sunnah Rasul , sallalahu alayhi wa sallam, BMN akan membangun Imarah. Sebagai tahap awal akan dibangun sebuah wakaf terpadu dengan nama Baitul Makmur.

Secara keseluruhan, Kawasan Baitul Makmur dicanangkan dalam kawasan yang dikembangkan dalam radius 2 km dari posisi kantor BMN saat ini, yaitu di kawasan Tanah Baru, Beji, Depok. Tahap pertama dari pengembangan kawasan Baitul Makmur adalah sebuah Bangunan Wakaf Terpadu yang terdiri atas:

  1. Rumah Singgah (Guest House)
  2. Rumah Sewa
  3. Kantor Ribat Indonesa
  4. Ruang Perpustakaan Malik Ibn Anas
  5. Ruang Zawiyah/Majelis Ta’lim

Kawasan ini akan dibangun di Jl. Mandor Ety, Tanah Baru, di atas lahan seluar sekitar 400 m2, wakaf dari Bpk Hariyadi Hasyim. Di dalam kawasan Baitul Makmur dicita-citakan dapat dibangun kawasan komersial lain, serta sebuah pasar umum, bagi masyarakat untuk berdagang tanpa dipungut sewa dan pajak.

Rancang bangun awal banguna pertama Baitul Makmur telah tersedia. Utamanya akan terdiri atas beberapa rumah tinggal untuk disewakan dan sejumlah fasilitas sosial sebagaimana di sebut di atas.

Secara keseluruhan, pengembangan Imarah ini tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Karenanya peran serta seluruh umat Islam di Indonesaia sangatlah diharapkan. Saat ini BMN telah menerima wakaf total sekitar 47 Dinar. Sementara biaya yang dibutuhkan untuk pembangnan tahap awal diperkirakan sekitar 500 Dinar emas.

Untuk mendukung Wakaf Imarah dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mewakafkan tanah-tanah sebagai lahan untuk Imarah atau bagian darinya.
  2. Menyedekahkan wakaf tunai untuk biaya pembelian lahan dan sarana lain dalam Imarah, melalui: Rekening No 067.008.4439 Bank Syairah Mandiri, Cabang Margonda, Depok, a.n Amal Nusantara.
  3. Menyedekahkan wakaf tunai berupa Dinar emas atau Dirham perak ke: Baitul Mal Nusantara (BMN).
  4. Memberitahukan kewajiban zakat yang jatuh tempo kepada BMN untuk ditarik dan didistribusikan kepada fakir miskin di sekitar pasar-pasar yang berlangsung saat ini sebagai cikal bakal Imarah

Sekretariat:
Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 775 2699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.
web: www.bmnusantara.org dan www.jawaradinar.com (001)

Dalam periode November-Desember BMN menerima tambahan wakaf dan sedekah 1 Dinar dan 51 Dirham.

Sedikit demi sedikit pengumpulan wakaf untuk proyek Imaret oleh Baitul Mal Nusantara (BMN) terus bertambah. Dalam dua bulan terakhir, yakni November dan Desember 2010, BMN telah menerima wakaf tunai sebesar 1 Dinar emas dari Bapak Tengku Shahindra. Selain itu, ada sejumlah wakif, yang sebagian adalah wakif rutin berwakaf Dirham. Antara lain Pak Marsono Abdurrasyid berwakaf 12 Dirham, selain bersedekah untuk kegiatan BMN lain sebanyak 8 Dirham. Lalu ada ibu Erlina Noerpitasari berwakaf 10 Dirham di bulan November. Pak Yan Radiyto, wakif rutin BMN, kembali berwakaf sebanyak 10 Dirham Desember lalu.

Ada beberapa wakif lagi yang tak mau disebut namanya. Untuk bulan ini ada tambahan dari kotak amal, baik yang ada di salah satu FHP maupun yang ada di ruang tamu WIN, totalnya sebanyak 6 Dirham 1 daniq (6.16 Dirham). Selain itu ada sedekah dan wakaf yang masih berupa rupiah, yang nanti akan diujudkan dalam emas atau perak.

Dengan tambahan wakaf dan sedekah di bulan November dan Desember 2010, sesudah dikurangi beberapa pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, saldo wakaf di BMN saat ini adalah 39 Dinar, 221.16 Dirham, Rp 1.048.395, dan 7 gr emas. Sedangkan sedekah rutin pada kas BMN saat ini adalah 1 Dinar, Rp 4.450.900, dan 27 Dirham. Lihat selengkapnya di Tabel 1.

Tabel 1. Posisi Kas BMN Pada Akhir Desember 2010

Tentang Imarah

Imarah adalah ‘Kawasan Terpadu’ yang menyatukan kegiatan keagamaan dan kesejahteraan umum, yang ditopang oleh pendanaan dari aktivitas komersial yang tak terpisahkan darinya. Di dalam sebuah Imarah - atau dalam tradisi Utsmani disebut sebagai Imaret - kita menemukan beragam fasilitas untuk keperluan ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pemakaman, taman-taman kota, serta pemukiman.

Istilah Imaret sendiri berasal dari bahasa Arab ‘imara, yang artinya pendirian. Kata ta’mir, yang di Indonesia lazim dipakai untuk istilah ta’mir masjid, berasal dari akar kata yang sama, ‘-m-r dan menghasilkan kata ‘amr - hidup - dan isti’mar - mendirikan di atas tanah (pembangunan). Kata di atas digunakan dalam ayat al-Qur’an (11:61), “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya“.

Kata Imaret juga berarti tindakan pengembangan suatu daerah, dapat disepadankan dengan pengertian Pembangunan Islam. Di dalamnya bisa kita dirikan masjid, madrasah dengan pelbagai jenis dan tingkat, wisma penginapan, dapur umum bagi kaum miskin dan para musafir, klinik-klinik, penampungan anak yatim, perpustakaan, instalasi air, bahkan tanah pemakaman, pabrik roti, taman dan kolam renang, bengkel, toko-toko, rumah zakat dan sebagainya.

Satu bagian penting dari Imaret adalah Karavanseri, atau rest area, tempat para pedagang dan musafir lain beristirahat dan tinggal sementara. Menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan darinya adalah bangunan-bangunan komersial terutama pasar (suq), bazar-bazar, pergudangan, pertokoan, pabrik-pabrik skala kecil dan menengah, bengkel, restoran, apotek, hotel, sarana penyembelihan hewan, kebun produktif, dan sebagainya, sebagai arena bisnis.

Sebagian besar atau seluruh pendapatan dari kegiatan komersial ini sepenuhnya dikembalikan dan digunakan untuk membiayai berbagai layanan sosial yang diberikan kepada publik.

Tentang Garnissun Bangsa

Garnissun Bangsa adalah gerakan ‘amal kebajikan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat berupa infak dan sedekah. Infak dan sedekah yang dimobilisasi oleh GARNISSUN BANGSA adalah koin-koin Dirham perak yang dapat diserahkan baik langsung kepada fakir miskin, masjid dan musholla di lingkungan terdekat, rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, pondok pesantren, maupun kepada lembaga-lembaga infak dan sedekah, serta derma dan sosial yang dipercaya.

Umat Islam yang ingin berwakaf atau sedekah melalui BMN, silakan:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071�7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.

(001)

Dalam periode November-Desember 2010 ratusan mustahik di Jogya, Banten dan Jakarta menerima zakat lewat Bitul Mal Nusantara.

Upaya penarikan dan pembagian zakat mal terus dilakukan oleh Amirat Indonesia dan dibagikan lewat Baitul Mal Nusantara. Seperti biasa pembagian zakat dijalankan berbarengan dengan Festival Hari Pasaran, hingga para mustahik dapat memanfaatkan uang mereka sesuai kebutuhan. Dalam periode November-Desember lalu masih ada sebagian zakat mal yang dititipkan oleh Dompet Dhuafa Republika, sebanyak 150 Dirham.

Perolehan

Dinar

Dirham

1

Saldo Oktober/Nov

5.5

118.66

2

Dari Dompet Dhuafa

150

5.5

268.66

Pembagian

1

Mustahik Karanganyar

100

2

Mustahik Serang

25

3

Mustahik Koja

90.66

3

Amilin

4

Total zakat yang dibagian apda periode ini adalah hampir 220 Dirham (219.66 Dirham). Sebagian besar dibagikan di Kampung Karanganyar, Jogyakarta (100 Dirham). Sebagian yang lain dibagikan di kampung sekitar Masjid Agung Serang, Banten, sebanyak 25 Dirham, dan sebanyak 90.6 (90 Dirham 4 Daniq) dibagikan di Kampung Koja, Kelurahan Semper, Jakarta Utara. Jmlah mustahik yang menerimanya lebih dari 300 orang, dengan kisaran 0.5 � 2 Dirham/mustahik. Lalu ada 4 Dirham diberikan kepada para petugas zakat yang ditunjuk Amir Indonesia untuk melaksanakan penarikan/pembagian di lapangan.

Saat ini masih ada saldo zakat mal di BMN sebanyak 5.5 Dinar dan 49,1 Dirham, yang akan dibagikan segera di berbagai tempat. Bagi kaum Muslim yang mengetahui hartanya telah jatuh nisab ( 20 untuk Dinar dan 200 untuk Dirham) dan haulnya (setahun penuh), hingga berkewajiban membayarkan zakatnya, harap menghubungi:

Bapak Abdarahman Rachadi
Baitul Mal Nusantara
Jl. M Ali No 2
Tanah Baru - Depok
Telpon 21-7752699
E-mail : abdarrahman@wakalanusantara.com

Dengan pinjaman dari Baitul Mal Nusantara Satu orang lagi terbebas dari rentenir.

Lima belas tahun lalu Pak Jakim harus berhenti dari tempat kerjanya, PT Industri Sandang Senayan. Posisi terakhirnya adalah sebagai pembersih mesin-mesin, satu posisi yang tidak terlalu tinggi. Barangkali setara dengan seorang OB (Office Boy) saja. Karena satu masalah, akhirnya Pak Jakim termasuk dalam kelompok yang mengambil pensiun dini. Dengan pesangon yang ia peroleh ia pun pindah ke luar Jakarta, ke Tanah Baru, Depok.

Untuk menghidupi keluarganya, dalam beberapa tahun terakhir ini, Pak Jakim yang tak lagi muda membuka warung kelontong seadanya. Untuk menambah mata dagangan, di teras warungnya, ia juga menjual bensin eceran. Tentu, penghasilanya tidak menentu dan tak mencukupi, maka ia jalani pula sebuah kerja sambilan: mengangkut sampah di lingkungan RT tempat ia tinggal. Maka, sepekan dua kali, ia bersama dua rekannya, tampak berkeliling menyeret gerobak sampah.

Dan seperti lazimnya para pedagang kecil seperti dirinya selalu kekurangan modal: tiap-tiap kali hendak belanja uang tak mencukupi, antara lain karena harga cenderung sudah naik. Ini akibat gerusan inflasi, nilai rupiah terus merosot. Solusinya pun lazim: ia berpaling ke rentenir. Tapi, semakin hari berhubungan dengan rentenir justru membuat hidupnya tambah susah. Dari setiap Rp 100 ribu yang ia pinjam, ia harus mengembalikan Rp 120.000. Artinya bunganya adalah 20% hanya untuk beberapa pekan.

Mendengar di Baitul Mal Nusantara (BMN) ada bantuan pinjaman modal, Pak Jakim pun datang mengajukan pinjaman. Tanpa proses berbelit, kecuali menandatangani perjanjian pinjam-meminjam, Pak Jakim mendapatkan pinjaman 13 Dirham. Cukup untuk memenuhi kebutuhannya berbelanja untuk warung mungilnya. Dengan meminjam ke BMN maka modal 13 Dirham itu harus ia kembalikan sama jumlahnya, 13 Dirham, dalam waktu enam bulan.

Dengan 13 Dirham itu seorang lagi, Pak Jakim yang kesehariannya bekerja sebagai tukang sampahg dan engelola kios bensin eceran, terbebas dari penindasan rentenir.

Bagi yang ingin membantu membebaskan kaum dhuafa dari rentenir, dapat menyalurkan sedekahnya melalui:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.

Sedikit demi sedikit koleksi buku perpustakaan Baitul Mal Nusantara terus bertamba

Sejak awal Baitul Mal Nusantara ditubuhkan, salah satu kegiatan yang dirintis adalah pengembangan sebuah perpustakaan. Tentu, sifatnya bukan perpusatakaan umum, yang mengoleksi segala jenis buku. Perpustakaan ini khususnya akan mengoleksi buku-buku Islam, dengan titik berat tema muamalat, atau ekonomi dan politik.

Meski masih kecil dari segi jumlah koleksinya, baru sekitar 250 judul, banyak buku-buku yang di perpustakaan lain di Indonesia tak tersedia, atau jarang tersedia, di perpustakaan BMN ada. Misalnya buku karya Ibnu Khaldun, Muqadimah, dalam versi bahasa Inggrisnya atau bab al Buyu, dari kitab Bidayat al Mujtahid karya Ibnu Rushd, yang telah diterjemahkan (dalam bahasa Inggris) dan dikomentari oleh Dr Assadullah Yate. Demikian juga buku-buku karya Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, seperti The Return of the Khalifat, Sultaniyyya, Muslim Prince, The Time of The Bedouin (dengan nama Ian Dallas), dll.

Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah judul baru telah dikoleksi, khususnya yang berkaitan dengan tema mata uang, muamalat, serta politik. Di antaranya adalah sbb:

  1. Singh, M.P (2007). Town, Market, Mint and Port in The Mughal Empire (1556-1707). Adam Publisher, New Delhi.
  2. Pamuk, Sevket (2000). A Monetary History of the Ottoman Empire. Cambridge University Press, Australia.
  3. Asreemoro (2008). Tausug and the Sulu Sultanate. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  4. El Dewani, Tarek (2010). Islamic Banking and Finance What It is and What it Could be. LSTEthical, Bolton, United Kindom.
  5. Meera, Ahamed Kameel Mydin (2010). Perampok Bangsa Bangsa: Mengapa Emas Harus Jadi Mata Uang Internasional. Mizan, Bandung.
  6. Amalia, Euis (2010). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer. Gramata Publishing, Jakarta.
  7. Maksudoglu, Mehmet (1999). Osmanli History 1289-1922: Based on Osmanly Sources. IIUM, Kuala Lumpur.
  8. Sulaiman, Ibraheem (2009). The African Caliphate: The Life, Works and Teaching of Shaykh Usman Dan Fodio (1754-1817). The Diwan Press, London.
  9. Wahyu, Amman N (alih aksara, 2005). Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Pustaka, Bandung.
  10. Saidi, Zaim (2010). Tidak Syar’inya Bank Syari’ah di Indonesia dan Solusinya Menuju Muamalat. Delokomotif, Jogyakarta.
  11. Mohamad, Nik Mahani (2010). Rethinking the Islamic Financial System. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  12. Mohamad, Nik Mahani (2009). Between Islamic Banking and The Golden Dinar. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  13. Sarkaniputra, Murasa (2009). Ruqyah Syar’iyyah: Teori, Model, dan Sistem Ekonomi. Al Ishlah Press, Cirebon.
  14. Clarke, Abdassamad (ed, edisi revisi, 2010). Banking the Root Cause of the Injustices of Our Time. Diwan Press. London.
  15. Gillot, Claude (2008). Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. KP Gramedia, Jakarta.
  16. Dll

Untuk masyarakat yang ingin membaca buku-buku tersebut bisa datang ke perpustakaan BMN, di Jl. M Ali no 2, Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat, setiap hari kerja. Demikian juga yang ingin membantu pengadaan koleksi buku perpustakaan, dapat menyumbangkan sedekahnya kepada BMN.

Kepada peserta pertemuan Silaturahmi Nazhir Wakaf disarankan agar menyimpan wakaf tunainya dalam Dinar dan Dirham.

Pada tanggal 7-8 November 2010 berlangsung rapat Silaturahmi dan Sosialisasi Nazhir Wakaf Uang yang diselenggarkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Tempatnya di Hotel Seruni, Cisarua, Puncak. Dalam pertemuan dua hari yang dihadiri lebih dari 30 orang ini, pengurus BWI, yang langsung dipimpin oleh ketuanya, K.H. Tolhah Hasan, mantan Menteri Agama RI era kepresidenan Gus Dur, BWI memperkenalkan seluk beluk ‘wakaf uang’.

Ini semua sebagai konsekuensi dari adanya UU No 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No 41 tahun 2004 tersebut. Menurut dua peraturan perundang-undangan ini kini diperkenalkan suatu bentuk ‘wakaf uang’, di mana setiap orang dapat berwakaf rupiah, yang disetorkan kepada suatu bank (syariah) yang telah ditunjuk, atas nama nazhir tertentu. Uang rupiah tersebut kemudian ‘diinvestasikan’ melalui bank bersangkutan, misalnya berupa deposito atau produk finansial lainya, dan pihak nazhir tinggal ‘memetik’ hasilnya � ‘bagi hasil’, dalam istilah perbankan syariah.

Selain para nazhir wakaf, yang mewakili berbagai institusi seperti Tabugn Wakaf Indonesia, Daarut Tauhid, Baitul Mal Hidayataullah, Baitul Mal Muamalat, Majelis Wakaf Muhammadiyah, Majelis Wakaf NU, Yayasan Wakaf ESQ165, serta beberapa pondok Pesantren, seperti PP Al Ghazali, dll, juga hadir sejumlah wakil dari bank syariah. Sebagian pimpinan teras BWI juga hadir sebagai pembicara.

Jadi, yang ditawarkan oleh pemerintah dalam konsep ‘wakaf uang’ ini tidak lain adalah ‘membekukan uang’ tersebut dan menikmati ‘anak’-ya. Konsepnya tidak jauh dari ‘uang beranak uang’. Tentu saja pengelolaan wakaf semacam ini tidak pernah dapat ditemukan dalam sejarah umat Islam.

Pak Zaim Saidi, yang hadir mewakili Baitul Mal Nusantara (BMN), dalam kesempatan itupun memperkenalkan alternatif yang jauh lebih baik dan halal, yakni menyimpan dan memanffatkan harta wakaf dalam bentu Dinar dan Dirham. Baik yang sifatnya sementara, yaitu wakaf tunai yang dikumpulkan untuk kemudian dibelanjakan demi keperluan wakaf, semisal membangun gedung (yang tentu saja tidak masuk kategori wakaf uang dalam definisi Pemerintah RI), maupun untuk keperluan produktif, melalui qirad.

Dalam sesi ‘Testimoni’ Pak Zaim menjelaskan kegiatan perwakafan BMN saat ini, yakni pengembangan Imarah sebagai sebuah model, yang telah dimulai dengan pembangunan kawasan Baitul Makmur. Disampaikan manfaat yang jauh lebih baik mengumpulkan wkaf tunai itu brupa Dinar dan Dirham. Secara umum, semua peserta menyepakati kenyataan ini, hanya soal pelaksanaannya saja.(001)

« Older entries