Dengan pinjaman dari Baitul Mal Nusantara Satu orang lagi terbebas dari rentenir.
Lima belas tahun lalu Pak Jakim harus berhenti dari tempat kerjanya, PT Industri Sandang Senayan. Posisi terakhirnya adalah sebagai pembersih mesin-mesin, satu posisi yang tidak terlalu tinggi. Barangkali setara dengan seorang OB (Office Boy) saja. Karena satu masalah, akhirnya Pak Jakim termasuk dalam kelompok yang mengambil pensiun dini. Dengan pesangon yang ia peroleh ia pun pindah ke luar Jakarta, ke Tanah Baru, Depok.
Untuk menghidupi keluarganya, dalam beberapa tahun terakhir ini, Pak Jakim yang tak lagi muda membuka warung kelontong seadanya. Untuk menambah mata dagangan, di teras warungnya, ia juga menjual bensin eceran. Tentu, penghasilanya tidak menentu dan tak mencukupi, maka ia jalani pula sebuah kerja sambilan: mengangkut sampah di lingkungan RT tempat ia tinggal. Maka, sepekan dua kali, ia bersama dua rekannya, tampak berkeliling menyeret gerobak sampah.
Dan seperti lazimnya para pedagang kecil seperti dirinya selalu kekurangan modal: tiap-tiap kali hendak belanja uang tak mencukupi, antara lain karena harga cenderung sudah naik. Ini akibat gerusan inflasi, nilai rupiah terus merosot. Solusinya pun lazim: ia berpaling ke rentenir. Tapi, semakin hari berhubungan dengan rentenir justru membuat hidupnya tambah susah. Dari setiap Rp 100 ribu yang ia pinjam, ia harus mengembalikan Rp 120.000. Artinya bunganya adalah 20% hanya untuk beberapa pekan.
Mendengar di Baitul Mal Nusantara (BMN) ada bantuan pinjaman modal, Pak Jakim pun datang mengajukan pinjaman. Tanpa proses berbelit, kecuali menandatangani perjanjian pinjam-meminjam, Pak Jakim mendapatkan pinjaman 13 Dirham. Cukup untuk memenuhi kebutuhannya berbelanja untuk warung mungilnya. Dengan meminjam ke BMN maka modal 13 Dirham itu harus ia kembalikan sama jumlahnya, 13 Dirham, dalam waktu enam bulan.
Dengan 13 Dirham itu seorang lagi, Pak Jakim yang kesehariannya bekerja sebagai tukang sampahg dan engelola kios bensin eceran, terbebas dari penindasan rentenir.
Bagi yang ingin membantu membebaskan kaum dhuafa dari rentenir, dapat menyalurkan sedekahnya melalui:
Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:
Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.


Bapak Hariadi Hasyim bin Mas’ud sudah cukup lama berniat mewakafkan sebidang tanahnya, seluas 383 m persegi, yang berlokasi di Jl. Mandor Ety Tanah Baru. Tetapi, ia berniat agar wakafnya berfungsi produktif, dan bukan menjadi aset mati. Ia memahami saat ini sudah terlalu banyak aset harta wakaf justru menjadi beban umat Islam untuk memeliharanya.
Alhamdulillah, seperti pada bulan-bulan sebelumnya, Amirat Indonesia melalui Baitul Mal Nusantara, pada bulan Oktober ini juga emmbagikan zakat. Kali ini pembagian dikonsentrasikan di sekitar Kampung Nelayan, Cilincing, bersamaan dengan pencananan Zona WIsata Dirham, Sabtu 23 Oktober lampau. Total zakat yang dibagkan adalah 256 Dirham.
Bulan Ramadhan 1431 H menandai kembalinya rukun zakat mal yang lama hilang, yakni pembayarannya dengan nuqud, Dinar emas dan Dirham perak, secara lebih nyata. Ramadhan tahun lalu (1430 H) di Baitul Mal Nusantara tercatat baru sekitar 1500 Dirham zakat mal yang ditarik dan dibagikan. Tahun ini, sampai periode Agustus 2010 saja (belum termasuk bulan September), telah tercatat total zakat mal (BMN) yang dibagikan sekitar 3500 Dirham. Sebagian, tentu saja, adalah hasil konversi zakat mal yang semula dibayarkan dalam bentuk Dinar emas.
Sudah beberapa tahun ini sejak suaminya tidak ada di sisinya lagi, Ibu Salmah Lodra (64 tahun), mengandalkan dagangan gado-gado dan nasi ramesnya sebagai sumber nafkah keluarganya. Meski sudah beranjak dewasa, satu anak laki-laki dan satu putrinya masih tinggal bersamanya, di rumah peninggalan suaminya. Meski ia mengaku sejak muda memang menyukai berdagang tetapi usianya kini membuat geraknya tak selincah dulu. Ia pun memilih berdagang di dekat rumahnya.
Loading...
Recent Comments