Menjelang FHP di Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, 350 Dirham sedekah dibagikan ke dhuafa dan yatim.

Waktu ba’da zuhur, sekitar pukul 13.30, Jum’at, 15 April 2011, warga masyarakat sekitar Madrasah Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, serta anak-anak yatim yang kebanyakan juga murid di madrasah ini, mulai memenuhi ruang majelis taklim. Mereka hadir untuk mendengarkan penjelasan tentang Dinar dan Dirham, serta persiapan penyelenggaraan Festival Hari Pasaran, yang akan berlangsung besok, Selasa, 19 April 2011, mulai jam 9.00 pagi. Di antara hadirin, tentu saja, ada para pedagang yang akan ikut dalam FHP yang baru untuk pertama kalinya ini diadakan di Bogor.

Selain penjelasan umum dari Bpk Zaim Saidi, yang mewakli WIN, para hadirin mendapatkan pemaparan seputar penggunaan Dinar dan Dirham sejak masa Nabi SAW dari Pak Sufyan al Jawi, al Wakil Wakala Keluarga Madani, serta dari Bpk Ikhsan Basha, Wakil Ketua Paguyuban Jawara. Meski banyak di antara peserta adalah orang-orang yang cukup lanjut usia, wajah mereka menunjukkan pemahaman tentang muslihat uang kertas dan perlunya kembali ke Dinar dan Dirham.

Pemaparan juga diberikan oleh Ibu Ida Priyatna, al Wakil Wakala Az Zahra, yang merupakan penggerak FHP Bogor ini, dengan menyatakan manfaat Dinar dan Dirham dalam menyelamatkan perekonomiam masyarakat. “Di tengah kita ini juga bekerja para perampok yang tidak bisa ditangkap polisi. Setiap hari harta kita dicuri oleh perampok ini, yang namanya inflasi,” ujarnya. Dengan kembali menggunakan Dinar dan Dirham, selain sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, kita dapat mencegah pencurian terselubung tersebut.

Sebagai bentuk rasa syukur mereka, Wakala Azzahra, menjelang FHP I Bogor itu, juga telah menitipkan 350 Dirham sedekah untuk dibagikan kepada kaum dhuafa dan yatim piatu sekitar Kotaparis, Bogor. Dengan adanya FHP Bogor, Selasa besok, kaum dhuafa dan para yatim ini dapat membelanjakan Dirham mereka untuk kebutuhan sehari-hari.

Semoga Allah SWT memberkahi keluarga besar Wakala Azzahra, melapangkan rezeki mereka, dan merahmati keluarga ini. Semoga Allah SWT memberkahi kaum dhuafa dan yatim, serta para pedagang yang akan bertransaksi menggunakan Dirham perak, di FHP besok.

(001)

Untuk memulai pengembangan Imarah Baitul Mal Nusantara akan membangun Baitul Makmur. Desain awalnya telah siap.

Dalam rangka mengembangkan peningkatan kesejahteraan umat yang sesuai dengan sunnah Rasul , sallalahu alayhi wa sallam, BMN akan membangun Imarah. Sebagai tahap awal akan dibangun sebuah wakaf terpadu dengan nama Baitul Makmur.

Secara keseluruhan, Kawasan Baitul Makmur dicanangkan dalam kawasan yang dikembangkan dalam radius 2 km dari posisi kantor BMN saat ini, yaitu di kawasan Tanah Baru, Beji, Depok. Tahap pertama dari pengembangan kawasan Baitul Makmur adalah sebuah Bangunan Wakaf Terpadu yang terdiri atas:

  1. Rumah Singgah (Guest House)
  2. Rumah Sewa
  3. Kantor Ribat Indonesa
  4. Ruang Perpustakaan Malik Ibn Anas
  5. Ruang Zawiyah/Majelis Ta’lim

Kawasan ini akan dibangun di Jl. Mandor Ety, Tanah Baru, di atas lahan seluar sekitar 400 m2, wakaf dari Bpk Hariyadi Hasyim. Di dalam kawasan Baitul Makmur dicita-citakan dapat dibangun kawasan komersial lain, serta sebuah pasar umum, bagi masyarakat untuk berdagang tanpa dipungut sewa dan pajak.

Rancang bangun awal banguna pertama Baitul Makmur telah tersedia. Utamanya akan terdiri atas beberapa rumah tinggal untuk disewakan dan sejumlah fasilitas sosial sebagaimana di sebut di atas.

Secara keseluruhan, pengembangan Imarah ini tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Karenanya peran serta seluruh umat Islam di Indonesaia sangatlah diharapkan. Saat ini BMN telah menerima wakaf total sekitar 47 Dinar. Sementara biaya yang dibutuhkan untuk pembangnan tahap awal diperkirakan sekitar 500 Dinar emas.

Untuk mendukung Wakaf Imarah dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mewakafkan tanah-tanah sebagai lahan untuk Imarah atau bagian darinya.
  2. Menyedekahkan wakaf tunai untuk biaya pembelian lahan dan sarana lain dalam Imarah, melalui: Rekening No 067.008.4439 Bank Syairah Mandiri, Cabang Margonda, Depok, a.n Amal Nusantara.
  3. Menyedekahkan wakaf tunai berupa Dinar emas atau Dirham perak ke: Baitul Mal Nusantara (BMN).
  4. Memberitahukan kewajiban zakat yang jatuh tempo kepada BMN untuk ditarik dan didistribusikan kepada fakir miskin di sekitar pasar-pasar yang berlangsung saat ini sebagai cikal bakal Imarah

Sekretariat:
Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 775 2699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.
web: www.bmnusantara.org dan www.jawaradinar.com (001)

Dalam periode November-Desember BMN menerima tambahan wakaf dan sedekah 1 Dinar dan 51 Dirham.

Sedikit demi sedikit pengumpulan wakaf untuk proyek Imaret oleh Baitul Mal Nusantara (BMN) terus bertambah. Dalam dua bulan terakhir, yakni November dan Desember 2010, BMN telah menerima wakaf tunai sebesar 1 Dinar emas dari Bapak Tengku Shahindra. Selain itu, ada sejumlah wakif, yang sebagian adalah wakif rutin berwakaf Dirham. Antara lain Pak Marsono Abdurrasyid berwakaf 12 Dirham, selain bersedekah untuk kegiatan BMN lain sebanyak 8 Dirham. Lalu ada ibu Erlina Noerpitasari berwakaf 10 Dirham di bulan November. Pak Yan Radiyto, wakif rutin BMN, kembali berwakaf sebanyak 10 Dirham Desember lalu.

Ada beberapa wakif lagi yang tak mau disebut namanya. Untuk bulan ini ada tambahan dari kotak amal, baik yang ada di salah satu FHP maupun yang ada di ruang tamu WIN, totalnya sebanyak 6 Dirham 1 daniq (6.16 Dirham). Selain itu ada sedekah dan wakaf yang masih berupa rupiah, yang nanti akan diujudkan dalam emas atau perak.

Dengan tambahan wakaf dan sedekah di bulan November dan Desember 2010, sesudah dikurangi beberapa pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, saldo wakaf di BMN saat ini adalah 39 Dinar, 221.16 Dirham, Rp 1.048.395, dan 7 gr emas. Sedangkan sedekah rutin pada kas BMN saat ini adalah 1 Dinar, Rp 4.450.900, dan 27 Dirham. Lihat selengkapnya di Tabel 1.

Tabel 1. Posisi Kas BMN Pada Akhir Desember 2010

Tentang Imarah

Imarah adalah ‘Kawasan Terpadu’ yang menyatukan kegiatan keagamaan dan kesejahteraan umum, yang ditopang oleh pendanaan dari aktivitas komersial yang tak terpisahkan darinya. Di dalam sebuah Imarah - atau dalam tradisi Utsmani disebut sebagai Imaret - kita menemukan beragam fasilitas untuk keperluan ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pemakaman, taman-taman kota, serta pemukiman.

Istilah Imaret sendiri berasal dari bahasa Arab ‘imara, yang artinya pendirian. Kata ta’mir, yang di Indonesia lazim dipakai untuk istilah ta’mir masjid, berasal dari akar kata yang sama, ‘-m-r dan menghasilkan kata ‘amr - hidup - dan isti’mar - mendirikan di atas tanah (pembangunan). Kata di atas digunakan dalam ayat al-Qur’an (11:61), “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya“.

Kata Imaret juga berarti tindakan pengembangan suatu daerah, dapat disepadankan dengan pengertian Pembangunan Islam. Di dalamnya bisa kita dirikan masjid, madrasah dengan pelbagai jenis dan tingkat, wisma penginapan, dapur umum bagi kaum miskin dan para musafir, klinik-klinik, penampungan anak yatim, perpustakaan, instalasi air, bahkan tanah pemakaman, pabrik roti, taman dan kolam renang, bengkel, toko-toko, rumah zakat dan sebagainya.

Satu bagian penting dari Imaret adalah Karavanseri, atau rest area, tempat para pedagang dan musafir lain beristirahat dan tinggal sementara. Menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan darinya adalah bangunan-bangunan komersial terutama pasar (suq), bazar-bazar, pergudangan, pertokoan, pabrik-pabrik skala kecil dan menengah, bengkel, restoran, apotek, hotel, sarana penyembelihan hewan, kebun produktif, dan sebagainya, sebagai arena bisnis.

Sebagian besar atau seluruh pendapatan dari kegiatan komersial ini sepenuhnya dikembalikan dan digunakan untuk membiayai berbagai layanan sosial yang diberikan kepada publik.

Tentang Garnissun Bangsa

Garnissun Bangsa adalah gerakan ‘amal kebajikan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat berupa infak dan sedekah. Infak dan sedekah yang dimobilisasi oleh GARNISSUN BANGSA adalah koin-koin Dirham perak yang dapat diserahkan baik langsung kepada fakir miskin, masjid dan musholla di lingkungan terdekat, rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, pondok pesantren, maupun kepada lembaga-lembaga infak dan sedekah, serta derma dan sosial yang dipercaya.

Umat Islam yang ingin berwakaf atau sedekah melalui BMN, silakan:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071�7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.

(001)

Dalam periode November-Desember 2010 ratusan mustahik di Jogya, Banten dan Jakarta menerima zakat lewat Bitul Mal Nusantara.

Upaya penarikan dan pembagian zakat mal terus dilakukan oleh Amirat Indonesia dan dibagikan lewat Baitul Mal Nusantara. Seperti biasa pembagian zakat dijalankan berbarengan dengan Festival Hari Pasaran, hingga para mustahik dapat memanfaatkan uang mereka sesuai kebutuhan. Dalam periode November-Desember lalu masih ada sebagian zakat mal yang dititipkan oleh Dompet Dhuafa Republika, sebanyak 150 Dirham.

Perolehan

Dinar

Dirham

1

Saldo Oktober/Nov

5.5

118.66

2

Dari Dompet Dhuafa

150

5.5

268.66

Pembagian

1

Mustahik Karanganyar

100

2

Mustahik Serang

25

3

Mustahik Koja

90.66

3

Amilin

4

Total zakat yang dibagian apda periode ini adalah hampir 220 Dirham (219.66 Dirham). Sebagian besar dibagikan di Kampung Karanganyar, Jogyakarta (100 Dirham). Sebagian yang lain dibagikan di kampung sekitar Masjid Agung Serang, Banten, sebanyak 25 Dirham, dan sebanyak 90.6 (90 Dirham 4 Daniq) dibagikan di Kampung Koja, Kelurahan Semper, Jakarta Utara. Jmlah mustahik yang menerimanya lebih dari 300 orang, dengan kisaran 0.5 � 2 Dirham/mustahik. Lalu ada 4 Dirham diberikan kepada para petugas zakat yang ditunjuk Amir Indonesia untuk melaksanakan penarikan/pembagian di lapangan.

Saat ini masih ada saldo zakat mal di BMN sebanyak 5.5 Dinar dan 49,1 Dirham, yang akan dibagikan segera di berbagai tempat. Bagi kaum Muslim yang mengetahui hartanya telah jatuh nisab ( 20 untuk Dinar dan 200 untuk Dirham) dan haulnya (setahun penuh), hingga berkewajiban membayarkan zakatnya, harap menghubungi:

Bapak Abdarahman Rachadi
Baitul Mal Nusantara
Jl. M Ali No 2
Tanah Baru - Depok
Telpon 21-7752699
E-mail : abdarrahman@wakalanusantara.com

Dengan pinjaman dari Baitul Mal Nusantara Satu orang lagi terbebas dari rentenir.

Lima belas tahun lalu Pak Jakim harus berhenti dari tempat kerjanya, PT Industri Sandang Senayan. Posisi terakhirnya adalah sebagai pembersih mesin-mesin, satu posisi yang tidak terlalu tinggi. Barangkali setara dengan seorang OB (Office Boy) saja. Karena satu masalah, akhirnya Pak Jakim termasuk dalam kelompok yang mengambil pensiun dini. Dengan pesangon yang ia peroleh ia pun pindah ke luar Jakarta, ke Tanah Baru, Depok.

Untuk menghidupi keluarganya, dalam beberapa tahun terakhir ini, Pak Jakim yang tak lagi muda membuka warung kelontong seadanya. Untuk menambah mata dagangan, di teras warungnya, ia juga menjual bensin eceran. Tentu, penghasilanya tidak menentu dan tak mencukupi, maka ia jalani pula sebuah kerja sambilan: mengangkut sampah di lingkungan RT tempat ia tinggal. Maka, sepekan dua kali, ia bersama dua rekannya, tampak berkeliling menyeret gerobak sampah.

Dan seperti lazimnya para pedagang kecil seperti dirinya selalu kekurangan modal: tiap-tiap kali hendak belanja uang tak mencukupi, antara lain karena harga cenderung sudah naik. Ini akibat gerusan inflasi, nilai rupiah terus merosot. Solusinya pun lazim: ia berpaling ke rentenir. Tapi, semakin hari berhubungan dengan rentenir justru membuat hidupnya tambah susah. Dari setiap Rp 100 ribu yang ia pinjam, ia harus mengembalikan Rp 120.000. Artinya bunganya adalah 20% hanya untuk beberapa pekan.

Mendengar di Baitul Mal Nusantara (BMN) ada bantuan pinjaman modal, Pak Jakim pun datang mengajukan pinjaman. Tanpa proses berbelit, kecuali menandatangani perjanjian pinjam-meminjam, Pak Jakim mendapatkan pinjaman 13 Dirham. Cukup untuk memenuhi kebutuhannya berbelanja untuk warung mungilnya. Dengan meminjam ke BMN maka modal 13 Dirham itu harus ia kembalikan sama jumlahnya, 13 Dirham, dalam waktu enam bulan.

Dengan 13 Dirham itu seorang lagi, Pak Jakim yang kesehariannya bekerja sebagai tukang sampahg dan engelola kios bensin eceran, terbebas dari penindasan rentenir.

Bagi yang ingin membantu membebaskan kaum dhuafa dari rentenir, dapat menyalurkan sedekahnya melalui:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.

Sedikit demi sedikit koleksi buku perpustakaan Baitul Mal Nusantara terus bertamba

Sejak awal Baitul Mal Nusantara ditubuhkan, salah satu kegiatan yang dirintis adalah pengembangan sebuah perpustakaan. Tentu, sifatnya bukan perpusatakaan umum, yang mengoleksi segala jenis buku. Perpustakaan ini khususnya akan mengoleksi buku-buku Islam, dengan titik berat tema muamalat, atau ekonomi dan politik.

Meski masih kecil dari segi jumlah koleksinya, baru sekitar 250 judul, banyak buku-buku yang di perpustakaan lain di Indonesia tak tersedia, atau jarang tersedia, di perpustakaan BMN ada. Misalnya buku karya Ibnu Khaldun, Muqadimah, dalam versi bahasa Inggrisnya atau bab al Buyu, dari kitab Bidayat al Mujtahid karya Ibnu Rushd, yang telah diterjemahkan (dalam bahasa Inggris) dan dikomentari oleh Dr Assadullah Yate. Demikian juga buku-buku karya Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, seperti The Return of the Khalifat, Sultaniyyya, Muslim Prince, The Time of The Bedouin (dengan nama Ian Dallas), dll.

Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah judul baru telah dikoleksi, khususnya yang berkaitan dengan tema mata uang, muamalat, serta politik. Di antaranya adalah sbb:

  1. Singh, M.P (2007). Town, Market, Mint and Port in The Mughal Empire (1556-1707). Adam Publisher, New Delhi.
  2. Pamuk, Sevket (2000). A Monetary History of the Ottoman Empire. Cambridge University Press, Australia.
  3. Asreemoro (2008). Tausug and the Sulu Sultanate. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  4. El Dewani, Tarek (2010). Islamic Banking and Finance What It is and What it Could be. LSTEthical, Bolton, United Kindom.
  5. Meera, Ahamed Kameel Mydin (2010). Perampok Bangsa Bangsa: Mengapa Emas Harus Jadi Mata Uang Internasional. Mizan, Bandung.
  6. Amalia, Euis (2010). Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: Dari Masa Klasik Hingga Kontemporer. Gramata Publishing, Jakarta.
  7. Maksudoglu, Mehmet (1999). Osmanli History 1289-1922: Based on Osmanly Sources. IIUM, Kuala Lumpur.
  8. Sulaiman, Ibraheem (2009). The African Caliphate: The Life, Works and Teaching of Shaykh Usman Dan Fodio (1754-1817). The Diwan Press, London.
  9. Wahyu, Amman N (alih aksara, 2005). Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga). Pustaka, Bandung.
  10. Saidi, Zaim (2010). Tidak Syar’inya Bank Syari’ah di Indonesia dan Solusinya Menuju Muamalat. Delokomotif, Jogyakarta.
  11. Mohamad, Nik Mahani (2010). Rethinking the Islamic Financial System. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  12. Mohamad, Nik Mahani (2009). Between Islamic Banking and The Golden Dinar. Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.
  13. Sarkaniputra, Murasa (2009). Ruqyah Syar’iyyah: Teori, Model, dan Sistem Ekonomi. Al Ishlah Press, Cirebon.
  14. Clarke, Abdassamad (ed, edisi revisi, 2010). Banking the Root Cause of the Injustices of Our Time. Diwan Press. London.
  15. Gillot, Claude (2008). Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII. KP Gramedia, Jakarta.
  16. Dll

Untuk masyarakat yang ingin membaca buku-buku tersebut bisa datang ke perpustakaan BMN, di Jl. M Ali no 2, Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat, setiap hari kerja. Demikian juga yang ingin membantu pengadaan koleksi buku perpustakaan, dapat menyumbangkan sedekahnya kepada BMN.

Kepada peserta pertemuan Silaturahmi Nazhir Wakaf disarankan agar menyimpan wakaf tunainya dalam Dinar dan Dirham.

Pada tanggal 7-8 November 2010 berlangsung rapat Silaturahmi dan Sosialisasi Nazhir Wakaf Uang yang diselenggarkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Tempatnya di Hotel Seruni, Cisarua, Puncak. Dalam pertemuan dua hari yang dihadiri lebih dari 30 orang ini, pengurus BWI, yang langsung dipimpin oleh ketuanya, K.H. Tolhah Hasan, mantan Menteri Agama RI era kepresidenan Gus Dur, BWI memperkenalkan seluk beluk ‘wakaf uang’.

Ini semua sebagai konsekuensi dari adanya UU No 41 tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU No 41 tahun 2004 tersebut. Menurut dua peraturan perundang-undangan ini kini diperkenalkan suatu bentuk ‘wakaf uang’, di mana setiap orang dapat berwakaf rupiah, yang disetorkan kepada suatu bank (syariah) yang telah ditunjuk, atas nama nazhir tertentu. Uang rupiah tersebut kemudian ‘diinvestasikan’ melalui bank bersangkutan, misalnya berupa deposito atau produk finansial lainya, dan pihak nazhir tinggal ‘memetik’ hasilnya � ‘bagi hasil’, dalam istilah perbankan syariah.

Selain para nazhir wakaf, yang mewakili berbagai institusi seperti Tabugn Wakaf Indonesia, Daarut Tauhid, Baitul Mal Hidayataullah, Baitul Mal Muamalat, Majelis Wakaf Muhammadiyah, Majelis Wakaf NU, Yayasan Wakaf ESQ165, serta beberapa pondok Pesantren, seperti PP Al Ghazali, dll, juga hadir sejumlah wakil dari bank syariah. Sebagian pimpinan teras BWI juga hadir sebagai pembicara.

Jadi, yang ditawarkan oleh pemerintah dalam konsep ‘wakaf uang’ ini tidak lain adalah ‘membekukan uang’ tersebut dan menikmati ‘anak’-ya. Konsepnya tidak jauh dari ‘uang beranak uang’. Tentu saja pengelolaan wakaf semacam ini tidak pernah dapat ditemukan dalam sejarah umat Islam.

Pak Zaim Saidi, yang hadir mewakili Baitul Mal Nusantara (BMN), dalam kesempatan itupun memperkenalkan alternatif yang jauh lebih baik dan halal, yakni menyimpan dan memanffatkan harta wakaf dalam bentu Dinar dan Dirham. Baik yang sifatnya sementara, yaitu wakaf tunai yang dikumpulkan untuk kemudian dibelanjakan demi keperluan wakaf, semisal membangun gedung (yang tentu saja tidak masuk kategori wakaf uang dalam definisi Pemerintah RI), maupun untuk keperluan produktif, melalui qirad.

Dalam sesi ‘Testimoni’ Pak Zaim menjelaskan kegiatan perwakafan BMN saat ini, yakni pengembangan Imarah sebagai sebuah model, yang telah dimulai dengan pembangunan kawasan Baitul Makmur. Disampaikan manfaat yang jauh lebih baik mengumpulkan wkaf tunai itu brupa Dinar dan Dirham. Secara umum, semua peserta menyepakati kenyataan ini, hanya soal pelaksanaannya saja.(001)

Jumlah wakif dan dana wakaf Imarah bertambah, meski masih jauh dari kebutuhan.
Jumlah dana wakaf yang diperlukan untuk membangun sebuah kawasan terpadu, yang kita sebut Imarah, yang menjadi cetak biru BMN, memang relatif besar. Karena itu sudah pasti pembangunannya nanti akan bertahap. Prioritas pertama adalah pembangunan pasar dan sarana niaga lain, dengan ukuran yang tak terlalu besar dulu. Diperkirakan, untuk tahap awal ini dibutuhkan dana sebesar sekitar 1000 Dinar. Selain itu, dengan adanya wkaf tanah 383 m persegi dari seorang wakif, pembangunan juga akan dimulai dengan sebuah kompleks terpadu, yang disebut sebagai Baitul Makmur, yang memerlukan sekitar 500 Dinar.

Karena itu, dalam waktu dekat ini, Baitul Mal Nusantara, akan melakukan upaya penggalangan dana wakaf secara lebih luas. Saat ini memang masih mengandalkan promosi melalui situs WIN, serta penyebaran brosur seadanya. Alhamdulillah, dalam keterbatasan ini, dalam bulan September dan Oktober ada lagi beberapa wakif baru, dan jumlah dana wakaf pun bertambah. Dalam laporan kali ini juga tercantumkan beberapa wakif yang tidak menyebutkan namanya, dan telah menyetorkan sedekah di bulan Agustus, tetapi belum terlaporkan.

Tabel 1. Perolehan Wakaf Imarah BMN Periode September-Oktober 2010

No

Penyumbang

Wakaf Imaret

Sedekah/Infak

Dinar

Dirham

Rp

Emas

Dinar

Rp

Dirham

Saldo Agustus 2010

35.5

108.9

7

2

5,255,301

46.76

Pemasukan September

1

Marsono A

4

2

Zaim Saidi

1

3

Yan Radityo Utomo

10

4

Hamba Allah

10

5

Deni Slamet

5

6

Tengku Shahindra

1

Pemasukan Oktober

1

Marsono A

6

4

2

Hamzah Al Rasyid

6

3

Kosirotun

6

4

Kotak Amal

6

5

Hamba Allah (11/09)

1

6

Hamba Allah (22/09)

150,000

7

Hamba Allah (14/08)

10

8

Hamba Allah (11/08)

15

19

Hamba Allah (11/08)

10

Pengeluaran September

1

Biaya Zona Dinar Dirham

1

25

2

Foto Kopi Dokumen

60000

Pengeluaran Oktober

1

Penambahan Koleksi Perpustakaan

130,600

7

2

Biaya Desain “Batul Makmur” tahap I

1

3.5

3

Biaya admnistrasi bank Jun - Oktober 2010

421,157

4

Biaya operasional BMN Jun-Oktober 2010

371,243

Saldo Oktober 2010

37.5

183.4

0

7

1

4,422,301

18.76

Sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. Dana wakaf pada periode ini bertambah 3 Dinar, dan 78 Dirham. Di antaranya 6 Dirham berasal dari kotak amal BMN. Sedangkan sedekah non-Imarah bertambah 16 Dirham. Untuk dana wakaf dikeluarkan biaya penyusunan desain “Baitul Makmur”, sebesar 1 Dinar dan 3.5 Dirham. Sementara pengeluaran sedekah pada periode ini adalah untuk tambahan pembiayaan persiapan pengembangan Zona Dinar Dirham Cilincing, sebesar 1 Dinar dan 25 Dirham, dan penambahan koleksi perpustakaan 7 Dirham. Ada juga pengeluaran dalam bentuk rupiah sebesar Rp 983.000, untuk biaya-biaya administrasi dan operasional BMN, kumulatif selama 5 bulan (Juni-oktober 2010). Sedangkan pemasukan dalam rupiah tercatat Rp 150.000.

Saldo wakaf dan sedekah di BMN periode ini adalah 37.5 Dinar, 183.4 Dirham, dan 7 gr emas. Sedangkan saldo sedekah rutin adalah 1 Dinar, 18.76 Dirham, dan Rp 4.422.301.

Bagi umat Islam yang ingin bersedekah dan berwakaf lewat BMN dapat melakukan:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri
067.008.4439,
Capem Margonda, Depok,

a.n Amal Nusantara.

atau langsung diserahkan ke:

Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.
Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/
email: abdarrahman@bmnusantara.org.

Seorang darmawan menyerahkan wakaf tanah, 383 m persegi, kepada Baitul Mal Nusantara. Di atasnya akan dibangun Kompleks “Baitul Makmur”.

Bapak Hariadi Hasyim bin Mas’ud sudah cukup lama berniat mewakafkan sebidang tanahnya, seluas 383 m persegi, yang berlokasi di Jl. Mandor Ety Tanah Baru. Tetapi, ia berniat agar wakafnya berfungsi produktif, dan bukan menjadi aset mati. Ia memahami saat ini sudah terlalu banyak aset harta wakaf justru menjadi beban umat Islam untuk memeliharanya.

“Karena itu saya sangat gembira melihat program wakaf Baitul Mal Nusantara IBMN), yang bertujuan produktif dan memiliki visi jangka panjang,” ujar Pak Hariadi saat bertemu pengurus Baitul Mal Nusantara, beberapa waktu lalu.

Ia berkenalan dengan Baitul Mal Nusantara melalui media internet, dan tertarik dengan Program Wakaf Imarah, yang dicanangkan oleh BMN. Imarah adalah kawasan terpadu yang menyatukan kegiatan ibadah, sosial, dan kesejahteraan umum, yang ditopang oleh sumber dana dari aktivitas komersial yang tidak terpisahkan darinya. Istilah Imarah berasal dari bahasa Arab: ‘imara, yang artinya pendirian. Kata ta’mir, yang lazim dipakai untuk istilah ta’mir masjid, berasal dari akar kata yang sama yakni ‘-m-r dan menghasilkan kata ‘amr dan isti’mar, mendirikan di atas tanah (pembangunan).

Di dalam Imarah terdapat mesjid, madrasah atau sekolah dengan pelbagai jenis dan tingkat, wisma dan penginapan, dapur umum bagi kaum miskin, para musafir dan pelajar, rumah-rumah sakit dan klinik, penampungan anak yatim, perpustakaan, zawiya, instalasi air, tanah pemakaman, pabrik roti,, taman dan kolam renang, bengkel, toko-toko, rumah zakat dan sebagainya. Untuk membangun sebuah Imarah dalam satu kawasan utuh tentu butuh dana besar.

Alternatifnya adalah pengembangan kawasan secara bertahap menuju terbangunnya sebuah Imarah. Untuk saat ini BMN tengan menyiapkan pembangunan bertahap ini untuk sebuah kompleks yang disebut sebagai Baitul Makmur, dimulai dengan tanah wakaf dari Bpk Hariadi di atas.. Dengan pendekatan bertahap ini maka sumber dana yang diperlukan pun menjadi tidak terlalu besar dan dapat disediakan secara bertahap juga.

Kompleks Baitul Makmur merupakan kawasan yang dikembangkan dalam radius 2 km dari posisi kantor BMN saat ini, yaitu di kawasan Tanah Baru, Beji, Depok. Tahap pertama dari pengembangan kawasan Baitul Makmur adalah sebuah Bangunan Wakaf Terpadu yang terdiri atas:

  • Kantor Ribat Indonesa
  • Ruang Perpustakaan Malik Ibn Anas
  • Ruang Zawiyah/Majelis Ta’lim
  • Rumah Singgah (Guest House)
  • Rumah Sewa

Dana yang diperlukan untuk membangun Kompleks Baitul Makmur diperkirakan sekitar 500 Dinar emas atau sekitar Rp 800 juta. Bagi umat Islam yang ingin bersedekah dan berwakaf dalam pembangunan Baitul Makmur, dapat melakukannya, dengan cara:

Transfer ke Rek Bank Syari’ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda, Depok,
a.n Amal Nusantara.
atau langsung diserahkan ke: Baitul Mal Nusantara (BMN)
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.

Sebagai bagian dari pencanangan Zona Dirham Kampung Nelayan BMN kembali bagikan zakat

Alhamdulillah, seperti pada bulan-bulan sebelumnya, Amirat Indonesia melalui Baitul Mal Nusantara, pada bulan Oktober ini juga emmbagikan zakat. Kali ini pembagian dikonsentrasikan di sekitar Kampung Nelayan, Cilincing, bersamaan dengan pencananan Zona WIsata Dirham, Sabtu 23 Oktober lampau. Total zakat yang dibagkan adalah 256 Dirham.

Tabel 1. Menunnjukkan bahwa zakat pada bulan Oktober berasal dari Bp Z sebanyak 88 Dirham dan dari Yayasan Pirac sebanyak 42 Dirham. Selebihnya zakat yang berasal dari penyaluran oleh Dompet Dhuafa Republika sebanyak 100 Dirham. Sedangkan dari saldo sebelumnya masih ada 32.66 Dirham. Jadi, dengan dibagikan sebanyak 256 Dirham, maka saldo zakat blan Oktober 2010 di BMN masih ada 5.5 Dinar dan 12.66 Dirham.

Dalam rencana semula saldo zakat bulan September yang lain, sebanyak 5.5 Dinar akan dibagikan disekitar FHP Beji Permai, pertengahan Oktober 2010. Namun demikian karena alasan teknis penyelenggaraan, FHP ini ditunda, untuk dilaksanakan sesegera mungkin.

Tabel 1. Perolehan dan Pembagian Zakat BMN Oktober 2010

No

Perolehan

Dinar

Dirham

1

Saldo September

5.5

32.66

2

Dari Dompet Dhuafa

100

3

Bapak Zasa

88

4

Yayasan PIRAC

42

5.5

262.66

No.

Pembagian�

Dinar

Dirham

1

Dhuafa Cilincing

250

2

Amilin ( 2 orang)

6

Saldo Okt

5.5

12.66

Bagi kaum muslimin yang mengetahui bahwa kewajiban zakatnya telah mencapai nisab dan haulnya dapat menghubungi petugas penark pajak Amirat Indonesia, melaui kontak di Baitul Mal Nusantara:

Bpk Abdarahman Rachadi

Jl.M Ali No 2 RT 003/RW 04. Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.
Telp. 7756071-7752699, HP: 0818 717101
email: abdarrahman@bmnusantara.org.

(001)

« Older entries § Newer entries »